Dari Rumah Sakit hingga Posko Pengungsian
Para relawan tidak hanya bekerja di rumah sakit. Fransiskus menjelaskan bahwa mereka tersebar di sejumlah titik pelayanan, termasuk RSUD BLU Ruteng, rumah sakit lapangan, RS Cancar, serta pelayanan kesehatan bergerak ke sejumlah wilayah terdampak.
Dukungan juga datang dari unsur non-tenaga kesehatan. Ratusan personel TNI/Polri, Brimob, mahasiswa kedokteran, tim SAR/rescue, pengemudi dan relawan pendukung ikut memperkuat operasional pelayanan di lapangan.
Kehadiran mereka menjadi penting karena gempa telah memberikan tekanan besar terhadap sistem pelayanan kesehatan Kabupaten Manggarai.
Dari 272 fasilitas kesehatan dan rumah dinas tenaga kesehatan yang terdata, 61 unit mengalami kerusakan berat. Kerusakan tersebut termasuk fasilitas rumah sakit dan sejumlah Puskesmas yang menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan masyarakat.
Dalam kondisi seperti itu, pelayanan kesehatan harus beradaptasi. Sebagian layanan dialihkan ke tenda-tenda darurat, sementara tenaga kesehatan bergerak mendekati masyarakat di lokasi pengungsian.
Bukan Hanya Menangani Luka
Hari ke-19 tanggap darurat menunjukkan bahwa persoalan kesehatan pascagempa mulai berkembang. Jika pada awal bencana perhatian utama tertuju pada korban luka dan evakuasi, kini tantangannya semakin kompleks.
Data RHA HEOC mencatat 6.295 kasus ISPA/batuk, 3.736 kasus hipertensi, 630 kasus trauma fisik, 374 kasus penyakit kulit, 357 kasus diabetes dan 267 kasus diare.
Di saat yang sama, masalah kesehatan jiwa juga semakin terlihat. Menurut Fransiskus, beban trauma psikis tertinggi tercatat di wilayah kerja Puskesmas Beamese sebanyak 181 kasus, disusul Puskesmas Reo sebanyak 171 kasus.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











