Cepat, Lugas dan Berimbang

Gandeng Yayasan Ayo Indonesia, Pemda Matim Gelar Pertemuan Multipihak Bentuk Pokja Perubahan Iklim

Dalam buku Keragaman dan Perubahan Iklim di Nusa Tenggara Timur terbitan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2015, ujarnya, menyatakan bahwa perubahan perilaku iklim yang tidak menentu di sebagian besar wilayah di NTT menyebabkan terjadinya penyimpangan pola hujan dari normalnya. Di mana awal musim hujan umumnya mundur, sering terjadi periode kering (dry spell) atau jeda hujan (season break), curah hujan bertambah tinggi. Namun periode musim hujan semakin pendek, serta intensitas hujan cukup tinggi terjadi pada musim kemarau.

Fenomena iklim seperti ini, jelas Rikhar, ternyata membawa dampak negatif di sektor pertanian yang tandai dengan penurunan produksi. Baik tanaman pangan padi maupun perkebunan khususnya, kopi robusta, bahkan menyebabkan gagal panen pada kedua komoditi penting tersebut.

Lebih jauh dia menerangkan, data produksi padi sawah beririgasi tehnis, sawah tadah hujan dan tanaman perdagangan yang dirilis oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Manggarai Timur pada tahun 2021, hasil padi sawah menunjukkan tren menurun sebesar 18,23 persen. Dan, sawah tadah hujan sebesar 53.94 persen pada 3 tahun terakhir. Sedangkan Produksi kopi Robusta pada 4 tahun terakhir (2018-2021) di Kec. Lamba Leda Selatan dan Congkar (lokasi studi) mengalami penurunan sebesar 257,30 ton atau 10,93 persen, dari total produksi 2.354,12 ton pada tahun 2018 turun menjadi 2.096,82 ton tahun 2021.

Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan iklim adalah petani sebab mereka tidak memilik pengetahuan dan keterampilan untuk dapat beradaptasi. Selain itu, akses mereka terhadap informasi iklim terbatas sehingga berpengaruh pada ketidakpastian untuk menentukkan musim tanam yang tepat.

“Ketidakmampuan mereka menghadapi dampak perubahan iklim berimplikasi kepada penurunan pendapatan dan pengeluaran tahunan keluarga-keluarga petani untuk penyediaan pangan beras terus meningkat. Sebanyak 82,28 persen penduduk di Kabupaten Manggarai Timur bermata pencaharian bertani dengan tingkat Pendidikan sangat rendah, hanya menamatkan Pendidikan di tingkat Sekolah Dasar. Padahal sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Manggarai Timur sebagaimana besaran kontribusinya mencapai 48,4 % terhadap PDRB,” tuturnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, semua pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai Timur harus bekerjasama untuk memberi perhatian pada isu perubahan iklim. Dan, merumuskan aksi yang dapat meningkatkan ketangguhan petani terhadap dampak perubahan iklim.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel