Namun menurut Brayen, pemikiran kedua kelompok usia ini cukup ribet. Brayen adalah kelompok usia remaja 16 tahun. Hidupnya cukup santai berdasarkan pengamatan para agent. Para agent mengelompokan mereka sebagai generasi yang tak berdasar. Hidup apa adanya tanpa memikirkan lebih dalam apa yang ia jalani.
“Saya sih enjoy aja. Toh kita masih ada bapak juga mama yang masih setia mendampingi kita. Pokoknya hidup dan nikmati saja apa yang ada. Generasi di depan kita juga dulu seperti kita. Siklus kehidupan kita tak ada yang berubah.” Begitu Brayen melakukan pembelaan terhadap setiap tingkahnya.
Masa Reparasi
Bagi Marten kelompok usia remaja ini meski didampingi dengan kuat. Kalau mau pohon kita berbuah manis, baiknya kita menanamkan hal yang baik untuk mereka. Tantangan terbesar di era ini adalah soal keterlibatan penuh orang tua dalam mendampingi kelompok remaja ini. Yang walaupun dalam setiap watku kita selalu menitipkan satu pesan harapan. Bahwasannya di pundak mereka sejuta harapan keluarga, masyarakat dan negara diberi.
Remaja kita hari ini pun cendrung berjalan sendiri dalam menjalani hidupnya. Meski kita tau bahwa tantangan besar yang remaja hadapi hari ini adalah perkembangan media dan teknologi yang cukup pesat. Persebaran informasi tanpa batas, membuat mereka terombang-ambing di tengah persebaran informasi di berbagai laman media sosial. Ada juga gelombang persoalan yang meskinya harus dijaga. Persebaran budaya asing yang melangkah begitu pesat. Namun tak diimbangi dengan pemahaman budaya lokal sebagai media penyaring. Sungguh bahwa Indonesia kaya akan budaya. Dan mayoritas karakter masyarakat kita terbentuk dengan beragam budaya yang ada tersebut. Sekali lagi itu lebih beradab. Yahh, walau dibilang konservatif. Tapi untuk perkuat medan pertempuran kita dalam menghadapi zaman sebaran budaya bebas, kita perlu perdalami budaya lokal.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan