Indria juga mengkritik pengangkatan para Wakil Rektor baru yang disebut “mudah diatur”, serta dugaan konsentrasi kekuasaan dalam tubuh kampus. Ia menegaskan bahwa regenerasi dalam kepemimpinan Tamansiswa telah mandek, bahkan banyak pejabat bertahan hingga empat periode tanpa penyegaran.
Kekacauan Fungsi
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa struktur organisasi Tamansiswa saat ini mengalami kekacauan fungsi. Majelis Luhur Tamansiswa kini juga menjadi pengurus yayasan di berbagai wilayah, termasuk untuk perguruan tinggi seperti UST. Di sisi lain, majelis cabang juga bertindak sebagai yayasan bagi sekolah-sekolah Tamansiswa di daerah. Praktik dwifungsi antara yayasan dan pengelola pendidikan ini terjadi secara masif dan melanggar prinsip tata kelola profesional.
“Kami menyerukan evaluasi menyeluruh dan audit independen terhadap pengelolaan UST, serta reformasi menyeluruh dalam struktur kepemimpinan Tamansiswa,” tegas Indria.
Demikian Indria mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga marwah Tamansiswa agar tetap menjadi pelopor pendidikan nasional yang bersih, beretika, dan berlandaskan nilai-nilai perjuangan Ki Hadjar Dewantara.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







