Karena menang debat belum tentu menang hidup. Tapi jujur ya… kadang “ngampet” itu jadi siksaan batin juga.
Pengen bicara, tapi lihat situasi, langsung mikir: “Ah sudahlah, umur sudah segini. Daripada tensi naik.”
Akhirnya pelarian paling aman? Ngopi di luar.
Di sana kita semua gagah lagi. Cerita seolah-olah di rumah tegas. Padahal baru tadi disuruh beli cabai dengan wajah melas.
Ini kritik buat para emak-emak.
Kadang terlalu sering evaluasi. Kalimatnya bukan saran, tapi seperti audit yang super “njlimet”
“Kenapa sih selalu begini?”
“Dari dulu nggak berubah.”
Padahal laki-laki itu butuh diakui.
Kalau di rumah diremehkan, di luar kadang muncul mode “garangan”.
Sok santun ke wanita lain. Sok perhatian.
Padahal sebenarnya cuma cari validasi yang hilang. Ini pembenaran realita psikologis. Laki-laki yang merasa dihormati di rumah, jarang cari panggung di luar.
Ini yang lebih sensitif.
Bagaimana jika penghasilan istri lebih besar dari suami.
Nah… ini tekanannya beda level. Di luar mungkin bisa bilang, “Rezeki itu nggak usah dibanding-bandingkan.”
Tapi di dalam hati? Ego bisa goyang. Karena dari kecil kita diajarin,” Laki-laki itu tulang punggung.”
Begitu nominal istri lebih besar, yang goyang bukan cuma rekening, tapi identitas.
Ya kalau istri bijak, tetap menghormati, tetap lembut, tetap menganggap suami pemimpin. Aman.
Tapi kalau setiap ngobrol dibumbui, “Kan aku yang lebih banyak bayar…”
Selesai.” kelar hidup loe”
Itu bisa jadi alasan kenapa bapak-bapak lebih sering “lembur”. Bukan mau selingkuh. Cuma mau merasa jadi orang lagi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan