Yogyakarta, infopertama.com – Wacana pemisahan sektor kebudayaan dari pendidikan dengan rencana pembentukan kementerian tersendiri masih menjadi dinamika publik. Pro kontra akan wacana pemisahan ini juga turut mendapat sorotan dari praktisi akademisi, Sri Isdiyanti, S. Pd,. M.A., M.Pd.
Kepada infopertama.com, Sri, sapaan akrab alumni program magister UST Yogyakarta ini menyampaikan ada beberapa hal yang kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam menghadapi dinamika kebudayaan dan pendidikan.
Menurut Sri, yang juga sebagai Ketua DPD Kabeh Sedulur Indonesia (KSI) DIY ini penting untuk mempertimbangkan pemisahan sektor kebudayaan dari pendidikan sebagai langkah maju bagi Indonesia.
Meskipun, kata Sri, saat dihubungi infopertama.com, Kamis, 21 Maret 2024 bahwa konsep ini telah diajukan sejak era pemerintahan sebelumnya, kesalahpahaman terus menghambat implementasinya hingga saat ini.
Demikian Sri, bahwa setidaknya ada tujuh (7) kelebihan yang mungkin terjadi jika sektor kebudayaan berdiri sendiri. Di antaranya:
1. Pengembangan Khasanah Kebudayaan Nusantara
Dengan fokus yang lebih intensif, unsur-unsur khas budaya Indonesia dapat berkembang dengan baik, memperkaya identitas bangsa dan melestarikan warisan budaya.
2. Revitalisasi Budaya Daerah
Pemisahan ini akan mendorong munculnya kembali budaya setiap daerah yang dapat diadaptasikan dengan perkembangan teknologi, menarik minat generasi muda yang memiliki kreativitas tinggi.
3. Peluang Baru di Perguruan Tinggi
Terbukanya peluang untuk pendirian jurusan atau fakultas baru yang fokus pada kebudayaan akan memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan akademik di Indonesia.