Cepat, Lugas dan Berimbang

Sumpah Pemudi Pemuda Indonesia (Catatan Kritis HUT ke-94, Janji Setia Pemudi Pemuda Indonesia)*

Kritis Menghadapi Krisis Global

Benih-benih individualisme, yang menyata dalam rendahnya tanggung jawab sosial, korupsi, sikap egois, eksklusivisme kelompok, minimnya pelayanan sosial bagi masyarakat, persaingan individual yang tidak sehat, aksi kekerasan demi pemenuhan kebutuhan individual dan kelompok tertentu, hilangnya rasa keadilan sosial dan hukum, minimnya rasa peka terhadap penderitaan sesama, banyaknya kebijakan publik yang tidak memihak rakyat, dan pelbagai ancaman lainnya telah menjadi ancaman besar bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan akan rasa persatuan, kesatuan dan solidaritas yang tinggi menjadi sangat urgen. Revitalisasi nilai-nilai yang dapat mengokohkan kembali rasa persatuan dan solidaritas di antara warga negara tampaknya menjadi sebuah keharusan.

Dalam konteks ini, peranan generasi muda amatlah dibutuhkan. Generasi muda yang telah mengukir kesuksesan pada awal pergerakan kemerdekaan itu kembali diminta peranan dan tanggung jawabnya. Mereka yang telah terbukti menampilkan perannya sebagai agen perubahan dalam masyarakat ditantang untuk menghidupi semangat yang sama dalam menjawabi setiap persoalan yang ada. Tuntutan ini tentu bukan saja karena pengalaman sejarah telah membuktikan ´kesuksesan´ generasi muda tetapi terutama karena kekuatan dan nilai yang (mesti) dimilikinya.

Pemudi Pemuda: Memiliki Jati Diri Intelektual

Generasi muda adalah sosok intelektual yang menduduki posisi dan peran khusus dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Posisi dan peran khusus itu selain dimungkinkan oleh kepemilikan pengetahuan yang luas juga oleh kepemilikinan nilai-nilai dasar yang menjadi landasan jati diri intelektualnya. Pengetahuan dan nilai-nilai dasar itu hendaknya menyata dalam setiap teladan hidup dan perjuangan generasi muda.

Setiap insan generasi muda perlu memiliki pengetahuan yang luas serta berkemampuan mengkritisi pelbagai ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat. Karena itu, minat baca yang tinggi dan kebiasaan untuk melakukan refleksi kritis terhadap pelbagai fenomena yang muncul amatlah dianjurkan dan mesti menjadi menu harian generasi muda tersebut.

Adalah sebuah ironi besar bahkan sebuah penyangkalan terhadap jati dirinya sendiri apabila generasi muda asing dari buku-buku yang memuat segudang ilmu pengetahuan dan asing dari realitas masyarakat sekelilingnya.

Namun, akumulasi pengetahuan yang diperoleh dalam proses belajar mengajar dan di bangku kuliah baru mendapat artinya dalam pengalaman konkret. Artinya, aplikasi dan kontekstualisasi pengetahuan merupakan keharusan. Kiprah seorang pribadi generasi muda tidak hanya terbatas dalam tembok-tembok sekolah dan kampus atau dalam bangku kuliah tetapi senantiasa digemakan keluar terutama dalam menjawabi setiap persoalan yang terjadi dalam masyarakat.

Di sini, pemanfaatan inteligensi yang tinggi sangat dianjurkan. Karena itu, kebiasaan-kebiasaan yang tidak menunjukkan pemanfaatan inteligensi atau berada di luar ciri jati diri intelektualitasnya mestinya ditinggalkan. Fenomena absurditas intelektual, keterlibatan dalam praktik kekerasan dan pelanggaran HAM, pesta pora dan hedonisme, gaya hidup konsumtif, seks bebas, lemahnya minat membaca dan berdiskusi, kurangnya minat belajar, serta rendahnya minat berorganisasi yang sekarang ini menjadi ciri kehidupan generasi muda umumnya, mestinya ditinggalkan jauh-jauh.

Selain pemanfaatan pengetahuan yang dimilikinya, generasi muda juga mestinya selalu berjuang menegakkan nilai-nilai universal kemanusiaan. Nilai-nilai ini adalah dasar yang menjadi landasan jati diri intelektualitasnya, dan inheren dalam identitasnya sebagai generasi muda.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel