infopertama.com – Pasangan Bakal capres-cawapres PDI Perjuangan (PDIP) dan koalisi, Ganjar Pranowo – Mahfud MD tampak saling sikut menyikapi status Gibran. Keduanya, baik Ganjar maupun Mahfud memiliki perbedaan pendapat dalam menanggapi status cawapres Gibran Rakabuming Raka, usai putusan Anwar Usman terbukti melanggar etik berat.
Ganjar Pranowo mengaku kian gelisah dan terusik mengenai putusan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK). Ia ingin tahu mengapa putusan bermasalah itu tetap dipertahankan sebagai landasan hukum bernegara, padahal jelas pembuat keputusan melanggar ketentuan.
Dengan kata lain, dia mempertanyakan mengapa Gibran Rakabuming Raka masih nyaman dalam statusnya sebagai cawapres 2024, jika cara pengambilan keputusan terbukti melanggar etik.
“Saya mencermati kembali kata demi kata, kalimat demi kalimat dari putusan itu yang menjadi pertimbangan dan dasar Majelis Kehormatan MK. Dari situ saya semakin gelisah dan terusik mengapa sebuah keputusan dari sebuah protes dengan pelanggaran etik berat dapat begitu saja lolos. Apa ada pertanggungjawabannya kepada negara,” ujar Ganjar, melalui unggahan video di akun Instagramnya, dilihat pada Minggu, 12 November 2023.
“Mengapa keputusan dengan masalah etik, di mana etik menjadi landasan dari hukum, masih dijadikan rujukan dalam kita bernegara. Mengapa hukum tampak begitu menyilaukan dan menyakitkan mata sehingga kita rakyat sulit sekali memahami cahayanya,” kata dia lagi.
Ganjar mengatakan dia menyampaikan hal ini sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, menghadapi tercederainya demokrasi dan keadilan belakangan ini. Dia bahkan mengkategorikan demokrasi bangsa ini di ambang kehancuran.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

