Di sini kita meletakan seluruh hidup kita hanya kepada Allah. Yesus juga menyapa berbahagialah orang yang berdukacita. Di sini, Yesus hendak menyentuh titik terlemah di dalam diri kita yakni kecenderungan kita untuk jatuh ke dalam dosa. Orang yang berdukacita adalah orang yang menyadari bahwa ia berdosa di hadapan Allah dan memohon rahmat pengampunan dari Allah. Dan, Orang yang berdukacita adalah orang yang bertobat, yang mau kembali kepada Allah.
Orang yang lemah lembut adalah orang yang menanggalkan ego dan kesombongan di dalam diri sendiri. Dia tidak lagi membanggakan diri sendiri melainkan mengakui keterbatasan dan kekurangan di hadapan Allah dan sesama. Dan di atas semuanya itu, Tuhanlah yang mengendalikan hidupnya. Tuhanlah nahkoda kehidupannya.
Selanjutnya, Yesus juga menyebut berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Sabda Allah harus menjadi santapan kita setiap hari. Di dalam Sabda Allah kita akan memperoleh mata air kehidupan yang tak pernah mengering dan juga lumbung makanan jiwa yang tak pernah habis. Karena itu, kita diajak dan diundang untuk selalu mengakrabkan diri dengan Sabda Allah. Selain itu, dengan bergaul mesra dengan Sabda Allah kita akan berjalan dalam kebenaran.
Orang yang murah hati juga disapa oleh Yesus yang berbahagia. Orang yang murah hati adalah orang yang mengerti dan memahami kebutuhan orang lain. Bukan hanya itu, dia juga memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan kemurahan hati, orang akan menjadi pribadi yang mau untuk mengampuni orang lain.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






