Ia menjelaskan bahwa bambu mampu menyerap hingga 60 ton karbon dioksida per hektare per tahun dan menghasilkan lebih banyak oksigen dibandingkan pohon lainnya. Hal ini menjadikan bambu sebagai solusi efektif dalam mengurangi jejak karbon global.
“Inovasi berbasis bambu sudah berkembang pesat, mulai dari bambu komposit, bambu beton, hingga bambu tekstil. Material ini tidak hanya lebih murah dibandingkan baja, tetapi juga memiliki sifat elastis yang menjadikannya tahan terhadap gempa. Ini adalah pilihan ideal untuk wilayah-wilayah rawan bencana alam seperti Indonesia,” jelas Dr. Muhtar.
Simak: Unika St. Paulus Ruteng Jalin Kerja Sama Internasional di Bidang Teknik Sipil
Ia juga membagikan pengalaman implementasi bambu pada proyek-proyek infrastruktur, seperti jembatan pracetak di Jember, Jawa Timur. Jembatan ini telah diuji mampu menahan beban kendaraan hingga delapan ton dan memenuhi standar mutu internasional.
“Proyek ini membuktikan bahwa dengan inovasi yang tepat, bambu dapat menjadi andalan untuk infrastruktur hijau yang berbiaya rendah namun berkualitas tinggi,” tambahnya.
Pemberdayaan Lokal dan Dampak Sosial-Ekologis
Seminar ini juga menyoroti pentingnya mengintegrasikan bambu ke dalam program pembangunan berbasis komunitas. Sebagai material yang melimpah di Flores, bambu memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi lokal.
Rektor menegaskan bahwa seminar ini sejalan dengan visi universitas untuk membangun komunitas akademik yang transformatif, kolaboratif, dan berkarakter.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

