Cepat, Lugas dan Berimbang

Sekolah Kita Rasanya Apa?

Jefrin Haryanto

Di bawah pendampingan psikolog Jefrin Haryanto, sekolah ini mulai berbenah: ruang kelas dibuat lebih terbuka, guru dilatih untuk memahami psikologi perkembangan anak, dan yang terpenting—anak-anak diberi ruang untuk merasa.

Setiap pagi dimulai dengan sapaan hangat, pelukan ringan, dan tanya kabar. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tapi juga diajak memahami emosi, berteman, berempati.

Di jam pelajaran, metode tidak terpaku pada ceramah satu arah. Ada diskusi, ada permainan, ada proyek kolaboratif. Bahkan rapor mereka menyertakan catatan keunikan, bukan sekadar angka.

Guru-guru di SDK St. Anjela belajar memahami bahwa anak-anak tidak bisa diperlakukan seperti salinan karbon. Ada yang cepat menyerap informasi. Ada yang butuh waktu. Dan itu bukan soal pintar atau tidak, tapi soal perbedaan cara tumbuh.

Inspirasi serupa juga bisa kita temukan di negara-negara seperti Finlandia—di mana sekolah tanpa PR dan ujian nasional justru melahirkan murid yang paling unggul secara global. Mengapa? Karena sistemnya percaya bahwa kebahagiaan adalah pintu masuk terbaik menuju prestasi. Mereka fokus pada well-being anak terlebih dahulu, baru kemudian prestasi akademik.

Maka mari kita bertanya ulang: Sekolah kita rasanya apa?
Apakah masih terasa seperti beban atau sudah seperti rumah?
Apakah kita membentuk anak untuk jadi penghafal atau pemikir?
Apakah mereka didorong untuk jadi diri sendiri, atau sekadar mengejar ekspektasi dewasa?

Dalam dunia yang berubah begitu cepat, masa depan tidak butuh anak yang sekadar patuh. Masa depan butuh anak-anak yang bahagia, adaptif, kreatif, dan punya empati. Dan itu semua hanya bisa tumbuh dari sekolah yang punya rasa—rasa sayang, rasa ingin tahu, rasa saling percaya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN