Cepat, Lugas dan Berimbang

Sedap dan Tak Harum: Itulah Kisah Kita

(sekadar butir-butir pasir di Tahun Jubileum)

“Anda tidak bisa berjabatan tangan dengan kepalan tangan”
(Indira Gandhi – mantan PM India)

Kons Beo, SVD

Betapa kejamnya perselisihan itu. Apalagi, sekiranya itu belum teduh untuk disudahi. Suara gaduh terdengar riuh. ‘Baku ambil kata’ lepas terdengar. Bukan kah pertengkaran itu antitesis dari berbalas pantun penuh nikmat kata nan sedap? Sebab alam ribut tak terhindar.

Kata-kata digelegar dalam suara. Dan di situ, telinga seperti mesti dibikin pekak dalam paksa mendengar. Ini belum lagi soal bombardir kata di cellular (HP) dalam wujud SMS. Belum puas di situ segera lanjut di Status-Story. “Sedikit-sedikit naik status. Apa-apa sedikit jadi story.” Bikin heboh di Fb pula dan seterusnya.

Semuanya bernada penuh sinis tajam hingga lurus hantam langsung yang kejam dan kasar. Ujung-ujungnya, rasa hati mesti tersakiti. Mental lawan pertengkaran atau orang yang dibenci itu mesti bermuara down. Dibuat tak berkutik. Tanpa daya. Harus kena mental ‘yang tak ada obat.’ Mari kita lanjut…

Dalam perang kata, peluru-peluru siluman  ditembakkan. Yakinlah bahwa semuanya  sungguh beracun. Yang dianggap lemah, kurang, buruk, apalagi penuh aib dan memalukan sepertinya saling dilesatkan. Mesti saling diperdengarkan ke khalayak. Biar semua pada tahu….

Sungguh! Ribut-ribut, yang bermula dari rasa tidak baku enak itu, sering terjadi di alam kebersamaan dan perjumpaan. Sebut saja itu di tempat kerja, di tempat umum, di kehidupan bertetanggaan. Dan jangan lupa, kisah kurang baku enak yang bisa berujung ribut itu sering terjadi dalam keluarga (besar) sendiri.

Ini bisa berawal sederhana dari hal sepele. Katakan itu semisal ‘salah kata dan bicara.’ Juga karena rasa iri yang hanya sekedar rasa saja. Atau juga soal harta gono-gini warisan leluhur yang tak kena di hati. Itu tadi, ada arus rasa tak adil yang menyumbat kepala dan pikiran.

Tetapi juga, gesek-gesekan rasa dan sikap dalam kebersamaan kerap lahir dari rasa tak adil dalam koridor hak, kewajiban dan tanggungjawab. Yang rasa miliki hak, dengan segala caranya tetap memburu dan bahkan menuntut haknya. Tak peduli lagi pada etika situasi dan kondisi. Maka tergoyahlah jalur kekerabatan, persaudaraan dan rasa kekeluargaan.

Janganlah lupa pula untuk disadari. Ada lagi duta-duta kegelapan yang datang dan hadir untuk bikin tambah keruh suasana. Kerjanya hanya ‘melilitkan isu di leher demi kibaskan suasana panas.’ Maka, kebersamaan dan rasa kekeluargaan jadinya tercecer. Terpolusi ke sana ke mari. Sebab, di situ sungguh tak ada jalan keluar. Tak ada! Yang ada hanyalah ‘giring isu hitam dan tebalkan hati dengan bara api panas membakar.’

Bagaimana pun, inilah hidup! Kita ini ‘manusia yang bodoh dan rapuh.’ Yang berziarah di dunia yang indah serentak ada retak-retaknya. Setiap orang punya kisah dan cerita yang tercipta dari kekuatan dan kerapuhannya. Tak mungkin tidak! Sentilan si bijak, “Selalu ada dua cerita dalam kehidupan kita: yang semua orang tahu dan yang pribadi.” Dan lagi, lanjut si bijak, “Ada cerita yang diketahui keluarga dan teman-teman, ada juga cerita yang kita simpan dalam diri kita.”

Tentu, segala kisah dan ziarah batin di dalamnya tak selamanya ‘seiring, sejalan dan searah.’ Pada kenyataannya, dalam tampilan publik seseorang bisa saja terlihat kokoh, teguh, ‘keras dan prinsipil,’ dicintai khalayak penuh kagum. Namun di dalam temu dirinya sendiri yang amat personal dan sunyi, ia pada tahu diri akan ‘betapa rapuh dan penakutnya diri sendiri di dalam batin,’ serta terhadapnya para iblis masih tetap tertawa bersorak.

Tetapi, mari kembali ke suasana panas ‘ribut-ribut dan pertengkaran’ itu. Orang bisa keletihan dengan membuang energi batin dalam mencari kepuasan penuh sia-sia bahwa ‘aku selalu OK, prima, mantap, benar, dengan semua titik-titik positifnya.’ Dan di situlah, pencitraan diri jadi belepotan ke sana-ke mari. Tetapi juga betapa orang bisa, di sisi lain, mengap-ngap reaksioner. Terjebak dalam sentimen penuh kemarahan saat ‘yang kurang, negatif, lemah, tak hebat, suram dan gelapnya sisi diri dan kisah tengah dicahayai lembut.’ Sebab orang tak mau dibilang ‘lemah dan kurang.’

Tidak kah nyanyian diri dan kisah setiap orang bisa berkiprah ceriah dan juga berdesah penuh minor lamentatifnya? Satu alarm ingatkan, “Tak usahlah kau memburu pujian yang sia-sia untuk disimpan dalam kantong tua; tak usah pulalah kau harapkan nasi dari beras yang telah jadi bubur dalam sesal menikam rasa teramat dalam.” Karena toh, jika demikian benturan dengan sesama dan di dalam diri sendiri bakal tak terhindarkan. Lalu mesti bagaimana kah…?

Sedap dan tak harum, itulah kisah dari siapapun kita. Kita hanya perlu apa yang disebut integrasi dari cerita mayor dan minor itu. Henri Nouwen menulis begini, “Kita menjadi dewasa dengan mengintegrasikan sisi terang, dan sisi gelap cerita kita” (A letter of consolation).

Di ziarah hidup-kisah dan diri kita sendiri yang ‘bersinar dan redup’ silih berganti, Gereja memanggil Umat Beriman ke dalam Peziarahan Harapan. Di dalam Iman akan Tuhan selalu ada Harapan yang membebaskan dan tak mengecewakan. Sungguh! ‘Spes non confundit’, Harapan tidak mengecawakan (Roma 5:5).

Hari-hari ini Umat Beriman lewati ‘Pintu Suci – Porta Santa’ dalam potret Peziarahan Harapan itu. Pintu Suci kita lewati untuk menjumpai dan bersimpuh di hadapan Allah yang maharahim. Iya, demi dirangkul dan dipeluk Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sungguh, Pintu Suci mesti kita lewati. Pintu Suci itu adalah cara simbolik kita ‘mengalami Yesus, Tuhan. Dialah “pintu” menuju keselamatan (Yoh 10:9).

Mari kita berkontemplasi sekadarnya. Jauh di sudut sana, dari Basilika-Basilika megah di kota Roma, dan dari Kathedral Keuskupan, masing-masing keluarga (besar) di satu Paroki berinisiatif untuk lewati ‘Pintu Rumah Keluarga’ sendiri. Semuanya seadanya di dalam doa penuh iman, kasih dan harapan. Demi mengalami sungguh Kasih Persaudaraan, saling mendoakan dan memberkati. Dan di atas semuanya mengalirlah arus kasih saling mengampuni!

Tahun Yubileum adalah momentum kita alami pengampunan dari Tuhan, yang lalu dinyatakan dalam saling mengampuni itu. Agar dijauhkan dan dibebaskan dari ‘segala tidak baku enak dan ribut-ribut’ dalam kebersamaan. Tahun Yubileum memanggil kita untuk mengalami Kasih dan Kerahiman Tuhan. Serentak kemudian kembali mengutus kita untuk berbelaskasih. Untuk saling memaafkan dan mengampuni. Dalam berjabat tangan dan merangkul, yang tak mungkin terjadi sekiranya tangan kita masih tetap terkepal…

Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro – Roma




Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel