Data ini bukan sekadar angka, melainkan cermin nyata pergumulan umat yang membutuhkan kehadiran Gereja secara konkret. Ia juga menyoroti persoalan lain seperti tingginya biaya hidup, pengeluaran rumah tangga yang sering lebih besar daripada pendapatan, meningkatnya biaya sosial, serta masih banyaknya usia produktif yang belum memiliki pekerjaan. Di sisi lain, kebutuhan sayur masih banyak dipasok dari luar daerah, padahal sektor ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja. Kekuatan utama umat sesungguhnya terletak pada ketersediaan lahan.
Rikard menegaskan bahwa sejak tahun 2019, PSE Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong telah bekerja sama dengan berbagai pihak dalam pelayanan diakonia, antara lain KWI, jaringan masyarakat Katolik, KSP CU Florette, dan PSE Keuskupan Ruteng. Kerja sama ini telah menghasilkan bantuan nyata, seperti dukungan ternak bagi kelompok tani di wilayah Tuke serta akses permodalan agribisnis.
Seluruh karya tersebut merupakan wujud nyata dari sinodalitas—Gereja yang berjalan bersama, mendengarkan, dan bekerja sama dengan berbagai pihak demi menjawab persoalan umat secara konkret.
Dalam reksa pastoral tahun 2026, Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong terus mengembangkan berbagai program yang relevan, seperti pelatihan bisnis dan pemasaran, literasi keuangan, serta pertanian organik berbasis karbon. Pelaksanaan program ini melibatkan berbagai pihak, antara lain pemerintah, KWI, PSE keuskupan, serta koperasi kredit.
Selain itu, terdapat usulan program baru dari Ibu Asumpta, antara lain penyuluhan kesehatan reproduksi bagi orang muda serta penanganan dan penyuluhan stunting. Ia menegaskan bahwa kasus stunting di wilayah paroki tergolong cukup tinggi, sehingga membutuhkan perhatian dan langkah konkret dari Gereja bersama para pihak terkait, termasuk pemeriksaan kesehatan bagi pasangan yang mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











