Kalimat “demi kepentingan rakyat” adalah jenis kalimat klasik yang sering diucapkan oleh setiap politikus di Nuca Lale. Itulah yang membuat kami tertawa reges.
Memulailah dengan hal kecil
Rimba, sahabat saya, mengulurkan tangannya ke kolong meja, mengambil sesuatu dan memberikan itu untukku. Ia memberiku sebuah buku yang halamannya sudah ia tandai. Buku yang saya amati sebelumnya. Entalah, mungkin dia tahu buku itu jadi fokus perhatian saya sebelumnya.
“Daripada membicarakan topik yang berat-berat, lebih baik baca dulu ini. Tulisannya menarik,” katanya sambil memberikan buku itu padaku.
“Apa ho e bro?
“Ambil dan baca saja dulu, nanti kamu tahu juga maksudku.”
Saya meraih buku yang tulisannya kecil-kecil itu, lalu mulai membaca halaman yang ia maksud.
“Judulnya, A Remarkable Beetle. Rangang, Undur-Undur atau Kumbang Tinja,” di rumah banyak ni binatang bro, batinku.
“Aneh! Rangang kok menarik!”
Saya mencoba membaca tulisan lawas itu. Kesal, karena tulisan buku itu berbahasa inggris, bahasa yang buat saya alergi, saya lebih senang dengan tulisan berbahasa indonesia. NKRI harga Mati, Bahasa Indonesia Harga Mati.
“Apa maksudnya?” Responku setelah selesai membaca tulisan berbahasa Inggris, yang samar-samar saya pahami artinya.
“Paragraf ketiga pada dua kalimat terakhir menyebutkan bahwa tanpa campur tangan kumbang tinja dalam mengurai kotoran binatang, kotoran ternak akan mengotori padang rumput, membuat rumput tidak dapat dimakan oleh hewan ternak dan menghalangi tanah dari sinar matahari secara langsung.
Kemudian, setiap 30 juta hewan ternak di Australia menghasilkan sekitar 1,7 milyar ton kotoran binatang, cukup untuk menutupi kira-kira 110.000 km persegi padang rumput atau sekitar setengah dari luas area Victoria.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel