“Jadi, harusnya ada lembaga negara dan ada lembaga pemerintah. Ada kas negara, ada kas pemerintah. Ada BUMN, ada BUMP. Polri, KPK, TNI, MK, dan lain-lain. Itu adalah lembaga negara, bukan lembaga pemerintah,” sambungku ragu-ragu.
“Harusnya seperti itu.”
“Memang sejak kapan semua itu berubah? Kenapa berubah? Apa tujuan diubahnya sistem itu? Siapa yang ubah itu semua?”
“Saya juga tidak tahu, tanya saja sama para ahli hukum tata negara,” Rimba merespon dengan senyum sedikit kecut, aram rabo ata ho ga.
Deru Mobil Pak Dewan
Dinginnya Ruteng menambah semangat menyeruput cairan hitam dalam gelas bening, masih hangat dan segera dihabiskan. Jika dibiarkan beberapa menit lagi, akan jadi dingin bak es.
Sembari membakar sebatang rokok putih, pandangan kami beralih ke arah jalan depan rumah, menyaksikan beberapa kendaraan lewat.
Deru mesin mobil Kijang kapsul tua bermesin diesel menganggu obrolan sore itu. Iya, mobil tua itu milik salah seorang dewan terhormat, tetangga sahabat saya. Gegara mobil itu pula, obrolan berpindah topik. Kali ini, Rimba yang mengawali obrolan, dia bertanya sekedar tuk mencari tahu dan berharap tidak menemukan tempe.
Jadi Dewan jangan Cuma Diam
“Apa kabar anggota dewan yang terhormat di daerah kita ini?”
“Kayaknya baik-baik semua, soalnya tidak ada ribut-ribut juga. Pokoknya, adem-adem saja.”
“Bikin apa saja mereka selama ini?”
“Mengurusi hajad hidup orang banyak. Demi kepentingan rakyat.” Jawabku sambil mata mengarah pada salah satu buku yang tercecer di antara tumpukan buku di kolong meja.
Kami berdua serentak tertawa lima gantang, reges lima leke.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel