Intinya, jika seseorang membunuh orang lain, “maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh” (Bil 35: 17). Kekerasan yang kita lakukan kepada orang lain akan mengancam kehidupan kita sendiri. Sebab itu bila ada penderitaan, kesulitan atau persoalan, penderitaan dan kesusahan yang kita alami, janganlah kita melampiaskan emosi dan kemarahan kita dengan merusak atau menghancurkan orang lain. Tetapi hadapilah semua kesulitan dan persoalan, penderitaan dan kesusahan dengan tabah dan sabar sambil terus percaya kepada Tuhan yang tidak mungkin melupakan atau meninggalkan kita.
Percayalah Pada Pemeliharaan dan Penyelenggaraan Tuhan
Dari semua turunan raja yang mati dibunuh oleh Ratu Atalya, tinggal satu yang hidup, yaitu Boas. Boas tidak hidup dengan cara normal, tetapi dengan cara yang amat sedih dan memprihatinkan. Dia hidup karena Yoseba, putrid Raja Yoram menculik Boas, seorang bayi kecil, lalu memasukkannya dan menyembunyikannya dengan inang penyusunya di kolong tempat tidur di rumah Tuhan selama enam tahun.
Dalam perjalanan waktu sesudah tahun ketujuh, sungguh terjadi mukjizat atas diri Boas. Melalui seremeoni yang luar biasa, Boas lalu dipilih dan diangkat, dinobatkan dan diurapi menjadi raja oleh imam Yoyada.
Belajar dari kasus Boas ini, kita harus percaya pada “Providentia Dei” atau Penyelanggaraan Tuhan. Bila Tuhan menghendaki dan mencintai kita, maka dengan cara apa pun dan melalui siapa pun, Ia akan mengatur dan menuntun kita, melindungi dan memelihara kita, membesarkan dan membimbing kita. Tujuannya bukan saja supaya kita selamat atau hidup, tetapi juga untuk maksud dan tujuan lain lebih besar dan lebih luas yang berada di luar cita-cita, rencana atau perhitungan manusia.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan