Dari kisah ini, ada 2 pikiran yang berguna bagi kita.
Bila Ada Penderitaan, Janganlah Menyiksa Orang Lain
Ratu Atalya mengalami kematian anaknya. Entah karena merasa stress atau merasa kehilangan anaknya, ‘ia membinasakan semua keturunan raja.’ Pasti semua orang dan warga berada dalam suasana takut yang luar biasa. Kalau ia menerima kematian anaknya dengan kuat, tabah dan ikhlas, tentu tidak terjadi peristiwa yang menggemparkan dan menakutkan orang atau warga. Tetapi justru ia memerintahkan pembunuhan bagi semua anak turunan raja.
Seperti Ratu Atalya, kita pasti mengalami penderitaan, kesulitan dan persoalan apa saja, termasuk kematian. Tetapi janganlah seperti Ratu Atalya, kita menyusahkan, menyiksa dan menghancurkan orang lain. Kesusahan, penderitaan dan kesulitan pasti tidak disebabkan oleh orang lain. Kalau pun ada persoalan dan masalah, penderitaan dan kesusahan yang disebabkan oleh orang lain, kita tetap tidak boleh begitu reaktif sampai menyusahkan dan menyengsarakan orang lain.
Ketika kita menyusahkan dan menyengsarakan orang lain, apalagi sampai mengancam kenyamanan hidup mereka dan kemudian membunuh nyawa orang lain, janganlah kita pikir segala persoalan selesai. Cepat atau lambat, penderitaan dan kesengsaraan yang kita timpakan kepada orang lain akan kembali menimpa diri dan hidup kita. Hal inilah yang dialami oleh Ratu Atalya. Dia membunuh semua turunan raja, tetapi buahnya, ia sendiri dibunuh dengan pedang oleh orang lain.
“Suatu pedang akan menembusi jiwamu sendiri” (Luk 2: 35). Siapa memakai pedang untuk membunuh orang lain, ia akan kembali dibunuh dengan pedang. Siapa menggunakan parang untuk menghabisi nyawa orang lain, parang yang sama atau parang lain akan kembali menghabisi hidup orang itu. Siapa menembak orang lain dengan senjata atau pistol, senjata atau pistol yang sama atau senjata atau pinstol yang lain pasti akan mengancam keselamatan hidup orang itu sendiri.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan