Narasi-narasi tanpa pendasaran seperti ini akhirnya diinternalisasikan pada anggota kelompok penolak dan juga publik. Inilah yang kemudian mendatangkan simpati publik.
Kedua, generalisasi. Pola ini dilakukan dengan “menjual” nama umum (komunitas/kelompok besar) untuk kepentingan khusus. Generalisasi lazim terjadi dalam rangka mencari legitimasi dan dukungan. Generalisasi yang dilakukan kelompok penolak geotermal Poco Leok dapat ditemukan pada pemberitaan-pemberitaan media penolak yang selalu menarasikan pandangan penolakan atas nama warga Poco Leok. Padahal, hanya segelintir orang warga Poco Leok yang menolak geotermal. Narasi generalisir sepert ini memang sengaja dilakukan supaya publik percaya bahwa seluruh warga Poco Leok menolak geothermal. Padahal, seluruh pemilik lahan yang terdampak proyek sudah menyetujui dan mendapatkan kompensasi dari PLN.
Kedua pola di atas yakni post truth dan generalisasi, tentu saja diyakini sebagai mesin pendulang simpati publik oleh kelompok penolak. Akan tetapi, pola seperti ini sebenarnya bentuk kebuntuan naratif. Apa itu? Kebuntuan naratif adalah keadaan di mana narasi-narasi tidak lagi bernilai guna karena publik sudah kehilangan simpati terhadap cerita-cerita kebenaran yang dikarang. Selain itu, simpati publik sudah berangsur-angsur tertuju pada masyarakat Poco Leok yang kerap dijadikan komoditas pemberitaan.
Bonum Commune
Kebuntuan naratif kelompok penolak geotermal Poco Leok tidak mungkin menjadi hambatan untuk tetap melakukan pola-pola serupa. Mengapa demikian? seperti kata pepatah terlanjur basah mandi sekali… aksi-aksi yang sudah mereka lakukan selama ini yang notabene berlangsung sangat lama tidak mungkin berhenti begitu saja. Ini bukan soal idealisme tetapi tentang rasa malu dan tanggung jawab moral terhadap publik. Terutama terhadap aksi dan narasi yang sebenarnya tidak dapat dipertanggjungjawabkan, tetapi terlanjur dikoar-koarkan ke hadapan publik.
Memperjuangkan hal-hal baik dan kepentingan umum adalah mulia. Tetapi berjuang atas nama hal-hal baik dan kepentingan umum demi diri sendiri adalah hina. Kira-kira begitu penggalan syair alam yang begitu polos. Pada akhirnya, harus diakui bahwa menghadapi pembangunan haruslah berpijak pada rambu-rambu hidup bernegara. Lebih dari itu, betapa pentingnya memiliki kesadaran akan tujuan mulia sebuah pembangunan yakni bonum commune (kebaikan bersama).
Imajinasi kolektif bangsa Indonesia akan keadilan sosial tidak boleh terus mengawang di langit-langit istana negara. Tujuan yang agung itu wajib untuk dilaksanakan melalui pembangunan. Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), pengembangan geotermal PLTP Ulumbu di wilayah Poco Leok penting untuk segera direalisasikan. Semakin cepat dikerjakan maka semakin dekat pula kebaikan bersama itu tercapai. Maka dari itu, bersama-sama kita serukan kepada segenap masyarakat Poco Leok supaya lawan semua agitasi dan propaganda. Pembangunan adalah jalan kemajuan bagi anak cucu kalian.
★Penulis buku Best Seller, warga Wewo, desa Wewo area kerja PLTP Ulumbu
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




