Cepat, Lugas dan Berimbang

Nobar Dibubarkan, Sutradara Film Pesta Babi Cypri Paju Buka Suara

Antropolog Cypri Jehan Paju Dale, Sutradara Film Pesta Babi (Foto: Ist)

Dia menilai kolonialsme sebagai kerangka pikir, atau kerangka analisis berhasil merangkum seluruh masalah itu. Menjelaskan bahwa semua terkait satu sama lain dalam sesuatu yang sudah berlangsung lama dan tidak bisa ada solusinya kalau hanya diselesikan dengan salah satu persoalan tadi.

“Yang lebih penting adalah kolonilaisme atau penjajahan, kerangka berpikir atau kerangka analisis yang sudah lama dipakai orang Papua sendiri dalam merumuskan pengalaman interaksi mereka dengan Indonesia dan bangsa lain,” pungkasnya.

Selain itu, dia mengungkapkan, film Pesta Babi tak disenangi karena tidak hanya mengganggu pemerintah dan militer. Namun juga warga negara.

“Hal kedua yang mau saya sampaikan. Pesta Babi mungkin mengganggu kita semua, tidak hanya pemerintah dan aparat militer, tapi juga warga negara yang baik, dan bersolidaritas terhadap orang Papua,” jelasnya.

“Karena film ini membuat kita harus menjawab pertanyaan, apakah Indonesia memang melakukan penjajahan di Papua?” sambungnya.

Meski pertanyaan tersebut sulit, menurutnya penting untuk didiskusikan secara jujur dan terbuka.

“Ini pertanyaan sederhana namun sulit. Kami merasa bahwa sudah saatnya pertanyan ini didiskusikan secara jujur dan terbuka,” terangnya.

“Dan di ujungnya konstitusi UUD 1945 berbunyi, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan,” sambung Cypri.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN