Yusak menilai Pilgub Jateng yang rencananya gelar November mendatang akan jadi pertaruhan besar bagi PDI-P. Jika gagal menempatkan kadernya sebagai gubernur, julukan Jateng sebagai kandang banteng bisa luntur seiring waktu. Jateng selama dua periode dipimpin Ganjar. Bibit Waluyo, pendahulu Ganjar, juga kader PDI-P.
“Apalagi partai-partai yang berada di kubu Prabowo-Gibran tetap berkepentingan untuk memenangkan Pilkada Jawa Tengah. Tapi, ini bergantung pada strategi masing-masing kandidat ke depan. Yang jelas, jika PDI-P tidak hati-hati, ke depan, tidak menutup kemungkinan bisa disalip oleh partai-partai lain,” jelas Yusak.
Guru besar ilmu politik, Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi sepakat menurunnya dominasi PDI-P di Jateng turut dipengaruhi konflik antara PDI-P dan Jokowi. Hubungan yang tak harmonis antara Jokowi dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri membelah suara publik di Jateng.


“Kedua, memang ada upaya ancaman kriminalisasi pada beberapa caleg dan (kepala daerah) petahana yang mengarahkan dukungannya ke capres tertentu. Mereka kampanye partai. Tapi, capresnya jangan milih Ganjar- Mahfud,” ucap Muradi, Sabtu (23/3).
Menurut Muradi, patut menduga aparat keamanan dan birokrat juga turut bekerja menggembosi suara PDI-P dan Ganjar-Mahfud di Jateng. Ia mencontohkan kasus pemanggilan sejumlah kepala desa di Jateng jelang pencoblosan oleh kepolisian setempat.
Faktor lainnya ialah kondisi internal PDI-P yang tak solid. Muradi berpendapat Ketua DPD PDI-P Jateng Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul tak serius memenangkan pasangan Ganjar – Mahfud di kandang sendiri.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












