Seperti pada pentas Pileg DPRD Jateng, pesaing terdekat PDI-P ialah PKB yang mengantongi 2.672.895 suara dan Partai Golkar yang meraup 2.648.583 suara. Meski begitu, raihan kursi PDI-P menurun jika bandingkan dengan Pileg 2019. Ketika itu, ada 26 kader PDI-P yang sukses melenggang ke Senayan dari dapil-dapil di Jateng.
Pada pentas Pilpres 2024, PDI-P terbilang “babak belur” di kandangnya sendiri. Pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD (Ganjar-Mahfud) usungan PDI-P dan PPP hanya mengantongi sekitar 7,8 juta suara. Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) menang telak dengan raupan 12 juta suara. Dan, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar jadi yang terbontot dengan raupan 2,8 juta suara.
Analis politik Citra Institute Yusak Farchan menilai melemahnya dominasi PDI-P di Jateng turut dipengaruhi konflik PDI-P dan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Yusak, banyak konstituen PDI-P dan parpol-parpol lainnya di Jateng yang masih “seirama” dengan Jokowi. Itu terlihat dari kemenangan telak Prabowo-Gibran.


“Dukungan Jokowi yang habitat politiknya masih pada PDI-P itu mengarah kepada Prabowo-Gibran. Jadi, ketika orang ditanya kenapa memilih PDI-P tetapi tidak mau memilih Ganjar, ya, alasannya karena mengikuti kecenderungan politik Pak Jokowi,” kata Yusak melansir Alinea.id, Sabtu (23/3).
Di Pilpres 2024, Jokowi membelot dari PDI-P dengan meng-endorse pasangan Prabowo-Gibran. Meski begitu, PDI-P masih belum pecat Jokowi. Hingga kini, hubungan antara PDI-P dan Jokowi masih buruk. Di DPR, PDI-P jadi salah satu penggerak hak angket yang tujuannya mengungkap dugaan kecurangan pemilu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












