Cepat, Lugas dan Berimbang

Manusia, Ayam, dan Martabat yang Dipertaruhkan

Oleh Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Ayam tidak pernah diadili karena membuang kotorannya sembarang tempat. Ia tidak pernah dipanggil untuk mempertanggungjawabkan jejak yang ditinggalkannya. Sebab ayam hidup dalam wilayah naluri. Ia bergerak oleh dorongan biologis, bukan oleh kesadaran etis. Dalam dirinya tidak ada pertimbangan tentang pantas atau tidak pantas, tentang hak orang lain, tentang ruang bersama yang harus dijaga.

Lalu pertanyaannya menjadi tajam: bagaimana jika manusia hidup seperti ayam?

Pertanyaan ini bukan tentang kotoran dalam arti harfiah semata melainkan sebuah metafora tentang tindakan tanpa pertimbangan moral. Tentang kebebasan yang dilepaskan dari tanggung jawab. Tentang hasrat yang tidak lagi disaring oleh nurani.

Secara biologis, manusia memang tidak jauh berbeda dari hewan. Ia makan, tidur, berkembang biak, dan mempertahankan diri. Namun secara eksistensial, manusia melampaui itu. Ia memiliki kesadaran diri. Ia tahu bahwa ia tahu. Ia mampu menilai tindakannya sendiri, bahkan sebelum orang lain menilainya. Di situlah letak perbedaan mendasar: manusia bukan sekadar makhluk yang hidup, tetapi makhluk yang menyadari hidupnya.

Kesadaran itulah yang melahirkan norma. Norma bukan sekadar aturan sosial yang membatasi. Ia adalah hasil dari kesadaran kolektif bahwa hidup bersama membutuhkan batas. Tanpa norma, kebebasan berubah menjadi benturan. Tanpa etika, ruang publik berubah menjadi arena saling melukai. Norma adalah jembatan antara kebebasan pribadi dan hak orang lain.

Jika manusia bertindak seperti ayam bebas membuang “kotoran” di mana saja maka kotoran itu tidak hanya berupa sampah fisik. Ia bisa berupa kata-kata kasar yang ditebar di ruang publik, keputusan politik yang merugikan banyak orang, atau tindakan egois yang mengabaikan dampaknya terhadap sesama. Ketika manusia menolak norma, ia bukan sedang memperluas kebebasan, melainkan mengikis martabatnya sendiri.

Filsafat sejak lama menempatkan manusia sebagai makhluk rasional. Aristoteles menyebutnya zoon politikon makhluk yang hidup dalam polis, dalam tatanan bersama. Immanuel Kant kemudian menegaskan bahwa manusia memiliki nilai karena ia mampu bertindak berdasarkan hukum moral yang ia sadari. Artinya, manusia bukan hanya tunduk pada hukum alam, tetapi mampu menciptakan hukum bagi dirinya sendiri.

Di titik ini, kebebasan bukan berarti melakukan apa saja. Kebebasan adalah kemampuan untuk memilih yang baik meskipun yang buruk lebih mudah. Ayam tidak punya pilihan moral; manusia punya. Justru karena punya pilihan itulah manusia bisa jatuh lebih rendah daripada hewan ketika ia dengan sadar memilih untuk tidak peduli.

Peradaban dibangun di atas kesediaan manusia untuk menahan diri. Menunda hasrat. Mengakui bahwa ruang ini bukan miliknya sendiri. Tanpa itu, kota hanya menjadi kandang besar dengan teknologi canggih. Gedung-gedung tinggi berdiri, tetapi kesadaran runtuh. Hukum ditulis, tetapi nurani diabaikan.

Maka pertanyaan “bagaimana jika manusia seperti ayam?” sejatinya adalah peringatan. Ia mengingatkan bahwa martabat bukan sesuatu yang otomatis melekat selamanya. Ia harus dijaga melalui tindakan yang bertanggung jawab. Melalui kesadaran bahwa setiap perbuatan meninggalkan jejak.

Ayam boleh hidup tanpa norma, karena ia tidak pernah diberi akal untuk menimbangnya. Tetapi manusia, ketika memilih hidup tanpa etika, sedang mengkhianati anugerah yang membedakannya. Dan pada akhirnya, yang membuat manusia layak disebut manusia bukanlah tubuhnya, melainkan kemampuannya untuk berkata pada dirinya sendiri: “Aku bebas, tetapi aku bertanggung jawab.”

★Guru SMK Ma’arif 9 Kebumen, Jawa Tengah

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel