Namun, lanjut Piwung, setelah mendengar informasi langsung di lapangan baik dari PLN, Kepala Desa hingga masyarakat sekitar, kami cukup kaget karena aspirasi penolakan seperti perusakan lingkungan, gagal panen hingga masalah kesehatan seperti kudis tidaklah benar.
“Kenyataannya adalah geotermal seperti PLTP Ulumbu tidaklah berdampak pada perusakan lingkungan ataupun pada kesehatan.” Kata dia menambahkan.
Anggota Dewan Yohanes Rumat secara terus terang mengatakan bahwa pada awalnya ia mendukung agenda menolak geotermal. “Akan tetapi, setelah mendengar penjelasan komprehensif PLN baik secara konsep maupun teknis serta pengakuan dari masyarakat, saya menjadi percaya bahwa geotermal harus didukung karena merupakan kebutuhan masyarakat dan zaman.”
Anggota Dewan Pendeta Junus Naisunis lebih lanjut menerangkan bahwa geotermal sebagai investasi jangka panjang untuk masa depan pemerintah daerah. Dijelaskannya bahwa energi geotermal yang memanfaatkan panas bumi untuk listrik bukan tidak mungkin akan menjadi energi alternatif yang dapat menggantikan energi-energi yang mengandalkan fosil.
Selain membahas konsep dan teknis dalam pemanfaatan geotermal beserta dampak-dampak terhadap lingkungan dan kesehatan, para anggota Dewan NTT juga menanyakan serapan tenaga kerja lokal di PLTP Ulumbu. Terkait hal ini dijelaskan Manager Pengelola PLTP Ulumbu Bapak Hosnan bahwa penyerapan tenaga kerja lokal mencapai 96,94% dan hanya 3,06% tenaga kerja luar.
Hosnan melanjutkan, tenaga kerja di PLTP Ulumbu berjumlah 98 orang dengan rincian 95 orang warga NTT dan 3 orang warga dari luar NTT.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







