Boni menjelaskan, pemerintah telah memberi perhatian pada upaya Penanggulangan Dampak Perubahan Iklim di sektor pertanian Pangan. Yakni melalui Penguatan Ketersediaan Pangan dan Cadangan Pangan. Program kegiatanya, antara lain, Integrasi Pangan (Penanaman Sorgum), Rehabilitasi Irigasi (RJIT), Pembangunan Embung, Sekolah Lapang/Pelatihan Petani. Lalu, Penguatan Kelompok Tani, Pengadaan Alsintan, Penyediaan Benih Padi Bersertifikat, dan Pembangunan UPH sorgum. Kemudian, pengembangan Padi Kaya Gizi dan Padi Hibrida, Pengembangan Jagung Komposit, Peningkatan dan Pengembangan Pangan Lokal. Serta, Pemanfaatan Pekarangan Rumah (P2L).
Sedangkan terkait Perkuatan Ekonomi Berkelanjutan, ungkap Boni, yang telah dan akan dilakukan ke depan adalah Pelatihan Pengolahan Produk Pangan. Berikutnya, Bantuan peralatan, Fasilitasi Ijin Usaha, Fasilitasi Ditribusi Pupuk berdasarkan RDKK dan Pengawalan Dana Desa Untuk Adaptasi Perubahan Iklim. Aksi-aksi ini tentu akan tetap dimasukkan ke dalam Rencana Aksi Adaptasi dan Mitigasi Cepat yang telah disusun oleh POKJA Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Kab. Manggarai Timur.
Hamdan Nurdin mengingatkan kembali peserta bahwa Perubahan iklim sedang berlangsung dan akan terus terjadi di masa depan beriring dengan makin meningkatnya jumlah penduduk dan gaya hidup yang kemudian menjadi trigger utama dari perubahan iklim di NTT.
Wilayah Manggarai Timur, kata Hamdan, menjadi salah satu wilayah kajian adanya perubahan iklim tersebut. Hak itu ditandai dengan adanya perubahan pola musim (hujan/kemarau). Yang mana pada kondisi normal musim hujan (mh) di Manggarai Timur selama periode 30 tahunan (1991-2020) awal Musim Hujan terjadi pada Oktober awal hingga pertengahan Oktober. Namun, 3 tahun terakhir kondisi awal Musim Hujan di Manggarai Timur mundur 1 hingga 2 dasarian. Atau terjadi di akhir Oktober hingga awal November. Hal ini juga berdasarkan data hujan yang terback-up oleh alat yang hanya tersebar di wilayah Manggarai Timur bagian barat. Belum semua wilayah Mangarai Timur terback-up atau dengan kata lain masih kurangnya sebaran alat pengamatan iklim.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan