Oleh Aji Priyo Utomo★
infopertama.com – Kekuasaan pada hakikatnya hanyalah alat. Ia bukan tujuan akhir, bukan pula kemuliaan itu sendiri. Ia seperti kendaraan: bisa mempercepat perjalanan menuju kebaikan, tetapi juga bisa membawa penumpangnya tersesat lebih jauh dan lebih cepat. Karena itu, persoalan mendasar bukan terletak pada kekuasaan itu sendiri, melainkan pada siapa yang memegangnya dan ke mana ia diarahkan.
Dalam tradisi etika klasik, kekuasaan dipahami sebagai sarana untuk mencapai kebaikan bersama (bonum commune). Aristoteles menyebut politik sebagai upaya mengatur kehidupan bersama agar manusia mencapai kebajikan. Artinya, kekuasaan selalu memiliki dimensi moral. Ia tidak netral sepenuhnya, sebab begitu berada dalam genggaman manusia, ia tunduk pada watak dan niat penggunanya.
Di sinilah letak persoalan yang sering kabur dalam praktik kehidupan publik. Banyak orang terjebak mengira bahwa kekuasaan adalah puncak pencapaian. Padahal, ia hanyalah instrumen.
Seperti sepeda motor yang mampu mengantarkan seseorang lebih cepat sampai tujuan, kekuasaan mempercepat kemampuan seseorang untuk berbuat baik ataupun buruk. Maka pertanyaannya bukan “apakah kekuasaan itu baik?”, melainkan “untuk apa ia digunakan?”
Jika tujuan kita adalah pelayanan, maka kekuasaan menjadi kendaraan yang memudahkan pengabdian. Namun jika tujuannya adalah ambisi pribadi, kekuasaan berubah menjadi panggung pemuasan diri. Dalam konteks ini, berjalan kaki bisa lebih bermartabat daripada mengendarai sepeda motor, apabila kendaraan itu justru membawa kita menjauh dari tujuan hakiki.
Ki Hadjar Dewantara pernah menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang “ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.” Kepemimpinan bukan tentang dominasi, melainkan keteladanan dan pemberdayaan. Kekuasaan, dalam perspektif ini, adalah alat untuk menumbuhkan daya hidup orang lain, bukan untuk memperkecilnya. Seorang pemimpin tidak sedang meninggikan dirinya, tetapi sedang memperluas manfaatnya.
Filsafat Jawa mengenal konsep “sepi ing pamrih, rame ing gawe” sunyi dari pamrih, ramai dalam karya. Kekuasaan yang sehat lahir dari batin yang tidak dikuasai hasrat pribadi. Ia dijalankan dengan kesadaran bahwa jabatan hanyalah titipan, bukan kepemilikan. Di sini, kekuasaan bukan simbol superioritas, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Yang Maha Kuasa.
Namun realitas sering menunjukkan sebaliknya. Ketika kekuasaan diperlakukan sebagai identitas diri, ia menjadi candu. Orang tidak lagi melihatnya sebagai alat, melainkan sebagai perpanjangan ego. Maka lahirlah paradoks: alat yang seharusnya mempermudah pelayanan justru mempertebal jarak antara pemimpin dan yang dipimpin. Sepeda motor yang mestinya mempercepat sampai tujuan justru dipakai berputar-putar demi pamer kemampuan mesin.
Di titik inilah kesadaran filosofis menjadi penting. Kekuasaan tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu melekat pada karakter. Ia memperbesar apa yang sudah ada dalam diri seseorang. Jika dalam dirinya ada kejujuran, kekuasaan akan memperluas kejujuran itu. Jika yang dominan adalah keserakahan, maka kekuasaan hanya akan memperbesar daya rusaknya. Karena itu, pendidikan moral dan pembinaan batin menjadi fondasi sebelum seseorang memegang kekuasaan. Tanpa kedewasaan etis, kekuasaan hanyalah akselerator tanpa rem. Ia mempercepat gerak, tetapi tidak menjamin arah.
Akhirnya, pertanyaan paling mendasar kembali pada tujuan. Mengapa kita ingin sampai lebih cepat, untuk siapa percepatan itu?.
Bila jawabannya adalah untuk kemaslahatan bersama, maka menggunakan “kendaraan” kekuasaan adalah pilihan rasional dan bahkan diperlukan. Namun jika tujuannya semata-mata memperlihatkan keunggulan diri, maka berjalan kaki dengan integritas jauh lebih mulia daripada melaju kencang tanpa arah.
Kekuasaan hanyalah alat. Nilainya ditentukan oleh nurani yang mengendalikannya. Dan dalam dunia yang sering silau oleh jabatan, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah tambahan kekuasaan, melainkan kedalaman kesadaran tentang untuk siapa kekuasaan itu dijalankan.
★Guru SMK Ma’arif 9 Kebumen, Jawa Tengah
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel


