Melalui APP, umat diajak untuk memberikan sedikit dari apa yang mereka miliki demi kehidupan sesama yang sedang berjuang untuk mencapai kesejahteraan. Kasih yang diwujudkan melalui derma kecil itu pada akhirnya kembali kepada banyak keluarga dalam bentuk bantuan ekonomi, pendampingan, dan fasilitas usaha.
Dana APP nasional, jelasnya, dikelola dalam tiga arah utama. Sebanyak 30 persen diserahkan ke PSE KWI untuk mendukung program pemberdayaan ekonomi, baik bagi umat Katolik maupun non-Katolik yang membutuhkan. Bagian lain disalurkan ke Karina KWI untuk membantu keluarga-keluarga yang terdampak bencana seperti kebakaran rumah, banjir, longsor, dan erupsi gunung api.
Sementara 70 persen digunakan oleh Puspas untuk pelatihan dan peningkatan kapasitas Dewan Pastoral Paroki, Dewan Stasi, dan kelompok-kelompok basis yang tersebar di keuskupan.
Dalam penjelasannya, Romo Jossy menekankan kembali nilai penting subsidiaritas, yaitu keberanian untuk menopang sesama yang masih lemah. Ia menjelaskan bagaimana seribu rupiah dari banyak orang dapat berubah menjadi kekuatan yang signifikan untuk menolong keluarga lain.
Romo Jossy juga mengingatkan umat agar senantiasa meneladani Kristus yang memberi tanpa menuntut balasan, dan menghidupi semangat “pati”—memberi terlebih dahulu sebelum menerima—yang telah lama hidup dalam budaya Manggarai.
“Memberi adalah bentuk syukur karena semua yang dimiliki manusia berasal dari kemurahan Tuhan,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Jika kambing ini berkembang dari segi jumlah, jangan lupa untuk memberikan kepada keluarga lain di luar kelompok.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











