“Pusat penerbangan global pun sering melewati kawasan ini. Ini menunjukkan posisi strategis bahasa Arab secara global,” jelasnya.
Dari aspek ilmiah, ia mengutip penelitian dari Max Planck Institute di Jerman yang menyatakan bahwa bhasa Arab termasuk yang paling banyak mengaktifkan kerja otak. Sementara British Council menilai bahasa ini memiliki kekayaan kosa kata yang luar biasa dan memberi pengaruh besar pada bahasa lain, termasuk bahasa Inggris.
Menjawab pertanyaan tentang mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab padahal Islam ditujukan untuk seluruh umat manusia, Nur Fajri menjelaskan bahwa keputusan tersebut mencerminkan hikmah Allah sebagai al-Ḥakīm.
“Allah tentu mampu menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa lain. Namun, karena Nabi Muhammad Saw pertama kali diutus kepada bangsa Arab, maka wahyu haruslah dalam bahasa mereka,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab eksklusif bagi orang Arab. Terjemahan telah dilakukan sejak awal Islam, misalnya oleh Salman al-Farisi yang menerjemahkan surat al-Fātiḥah ke dalam bahasa Parsi. Terjemahan lainnya menyusul, termasuk ke bahasa Yunani pada abad ke-8, Latin pada abad ke-12, dan Melayu.
Ia menegaskan bahwa penerjemahan Al-Qur’an tidak bertentangan dengan syariat, bahkan bisa dilakukan tanpa mencantumkan teks Arabī, terutama untuk kebutuhan dakwah kepada non-Muslim.
“Di Jerman dan Inggris, banyak terjemahan Al-Qur’an yang tidak mencantumkan lafaz Arabī demi mempermudah pemahaman,” jelasnya.
Lebih dari itu, Nur Fajri menggarisbawahi peran bhasa Arab sebagai lingua franca kaum Muslimin. “Seorang Muslim dari Indonesia dan Uganda mungkin tidak memahami bahasa satu sama lain, tapi mereka saling menyapa dengan ‘Assalāmu ‘alaykum’ dan melaksanakan salat dengan bacaan yang sama. Inilah kekuatan bahasa Arab sebagai perekat umat,” tegasnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







