Cepat, Lugas dan Berimbang

Manfaatkan Pangan Lokal, Inovasi PERMATABELO Tingkatkan Gizi Anak, Cegah Stunting

Ruteng, infopertama.com – Upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, terus dilakukan melalui berbagai inovasi revolusioner terobosan lokal yang lahir dari kepedulian terhadap gizi anak dan potensi sumber daya alam yang melimpah.

Salah satunya adalah program PERMATABELO (Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal) yang digagas oleh UPTD Puskesmas Pagal.

Program ini menyasar balita dengan kondisi gizi kurang di Desa Riung dan sekitarnya, dengan memanfaatkan potensi bahan pangan lokal seperti labu kuning, kelor, kacang hijau, dan sumber protein nabati lainnya.

Fabiola Belinda Kurniati Nengko Kepala UPTD Puskesmas Pagal, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa PERMATABELO tidak hanya fokus pada pemberian makanan tambahan, tetapi juga pada edukasi gizi kepada orangtua dan kader posyandu.

“Selama tiga bulan UPTD Puskesmas Pagal berhasil menurunkan jumlah balita stunting di Desa Riung sebesar 43%, dari 41 anak pada Februari 2023 menjadi hanya 23 anak pada Februari 2024. Lebih menggembirakan lagi, prevalensi stunting di desa ini kini berada di bawah target nasional, yakni 9,5%,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pendekatan ini tak hanya menekan stunting secara signifikan, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan sumber pangan lokal.

“Kami ingin memastikan setiap anak mendapat asupan gizi cukup tanpa harus bergantung pada produk pabrikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fabiola menerangkan, inovasi ini tidak hanya berdampak langsung pada penurunan angka stunting, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang berbasis pangan lokal.

“Tujuan kami adalah memastikan setiap anak mendapatkan asupan gizi yang cukup tanpa harus bergantung pada produk pabrikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fabiola menyampaikan bahwa, inovasi ini tidak hanya berdampak langsung pada penurunan angka stunting, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang berbasis pangan lokal.

“Tujuan kami adalah memastikan setiap anak mendapatkan asupan gizi yang cukup tanpa harus bergantung pada produk pabrikan,” ungkapnya.

Inovasi ini sebenarnya berawal dari kepedulian tenaga kesehatan terhadap tingginya prevalensi stunting di Desa Riung dan desa sekitarnya. Melihat potensi pangan lokal yang melimpah, seperti labu kuning, ubi ungu, kacang hijau, dan sayuran segar dari kebun warga, pihaknya berinisiatif mengolah bahan-bahan tersebut menjadi makanan tambahan bergizi bagi balita, sebagai langkah konkret menekan kasus stunting secara berkelanjutan.

Sementara itu, Martina, seorang kader Posyandu, menyoroti kebiasaan konsumsi jajanan instan sebagai salah satu penyebab utama kekurangan gizi kronis pada anak.

Menurutnya, makanan ringan yang tinggi kandungan garam, gula, serta bahan pengawet namun rendah nilai gizi sering membuat anak merasa kenyang. Padahal, tubuh mereka tetap kekurangan zat penting seperti zat besi, vitamin A, protein, dan mikronutrien lainnya yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal.

Selain memanfaatkan pangan lokal, inovasi ini juga melibatkan kader posyandu dan keluarga secara aktif. Mulai dari pengolahan bahan, distribusi, hingga edukasi pola makan sehat. Hal ini mendorong keterlibatan masyarakat dan menjadikan program lebih berkelanjutan.

Warga pun memberikan respons positif terhadap inovasi ini. Yosepha,
seorang ibu balita penerima manfaat mengungkapkan bahwa sejak anaknya rutin mengonsumsi makanan tambahan dari program tersebut, kondisi kesehatan anaknya membaik. Dan, berat badannya mengalami peningkatan.

Setiap bulan, tenaga medis rutin mengunjungi rumah-rumah untuk memastikan anak tidak lagi mengandalkan jajanan sebagai pengganti makanan utama. Orangtua juga didorong untuk menyediakan menu bergizi dari bahan lokal setiap hari.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel