Guru Non-ASN: Mengabdi dengan Ikhlas, Bertahan dengan Utang, Menunggu Sertifikasi yang Tak Pasti

Guru yang menghadapi tekanan ekonomi tentu tetap berupaya menjalankan tugas profesionalnya. Akan tetapi, bukan berarti tekanan tersebut patut dibiarkan berlarut-larut tanpa ada upaya perbaikan.

Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan proses penyaluran tunjangan berjalan sesuai aturan, informasi jadwal disampaikan secara transparan, serta mekanisme pengaduan tersedia dan mudah diakses.

Pihak sekolah juga perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan para guru mengenai kondisi honorarium dan dukungan yang dapat diberikan sesuai kemampuan serta aturan yang berlaku.

Tujuannya bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan memperbaiki keadaan agar guru tidak terus-menerus menanggung beban ketidakpastian seorang diri.

Sebab, persoalan kesejahteraan guru bukan hanya urusan pribadi seorang pendidik, melainkan berkaitan langsung dengan penghargaan terhadap tenaga profesional yang menentukan kualitas pendidikan bangsa.

Guru Mengajar untuk Masa Depan, tetapi Siapa yang Menjamin Kepastian Hidupnya Hari Ini?

Bayangkan seorang guru yang pagi-pagi berangkat ke sekolah dengan uang transportasi pas-pasan. Ia mengajar dengan penuh tanggung jawab, tersenyum kepada peserta didik, dan berusaha menyelesaikan seluruh tugasnya. Namun, saat pulang, ia kembali terbebani oleh kebutuhan rumah yang belum terpenuhi karena tunjangan yang diharapkan belum juga cair.

Besok ia harus kembali mengajar. Lusa pun demikian. Tugasnya terus berjalan, tetapi kepastian penghasilannya masih menjadi tanda tanya.

Sampai kapan keadaan seperti ini harus menjadi beban yang dipikul dalam diam?

Guru non-ASN tidak sedang meminta kemewahan. Mereka hanya menginginkan kepastian agar dapat hidup layak, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjalankan profesinya dengan pikiran yang tenang.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel