Guru Non-ASN: Mengabdi dengan Ikhlas, Bertahan dengan Utang, Menunggu Sertifikasi yang Tak Pasti

Ironisnya, mereka tetap harus datang ke sekolah dan menjalankan tugas seperti biasa.

Di depan kelas, mereka mengajarkan nilai-nilai tanggung jawab, kedisiplinan, dan masa depan. Namun, dalam kehidupan pribadi, mereka sendiri sedang berjuang menghadapi ketidakpastian pendapatan.

Apakah guru tidak boleh mengeluh? Apakah mempertanyakan hak yang belum diterima berarti pengabdiannya tidak tulus?

Tentu tidak!

Guru juga manusia. Mereka memiliki kebutuhan, tanggungan, dan persoalan hidup. Ketulusan dalam mengajar tidak membuat kebutuhan rumah tangga berhenti. Semangat pengabdian tidak bisa membayar tagihan listrik, dan kesabaran tidak otomatis menyediakan uang belanja untuk keluarga.

Kalau Katanya Setiap Bulan, Mengapa Guru Harus Terus Menunggu?

Inilah pertanyaan yang layak mendapatkan jawaban.

Jika pencairan sertifikasi diharapkan berlangsung setiap bulan, mengapa dalam kenyataannya sebagian guru masih menghadapi keterlambatan dan ketidakpastian?

Memang, pencairan tunjangan melibatkan proses administrasi, verifikasi, dan tahapan penyaluran sesuai dengan ketentuan. Tidak semua keterlambatan berarti hak guru diabaikan. Namun, ketika hambatan terjadi, guru membutuhkan informasi yang jelas: apa penyebabnya, bagaimana status pencairannya, dan kapan perkiraan penyelesaiannya.

Guru tidak seharusnya dibiarkan menebak-nebak.

Mereka tidak seharusnya hanya mendengar kabar dari mulut ke mulut, berharap setiap kali mengecek rekening, lalu kembali kecewa ketika saldo tidak berubah.

Yang menyakitkan bukan hanya uang yang belum cair, melainkan ketidakpastian yang membuat seseorang sulit mengatur jalannya kehidupan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel