Gunakan Trotoar Buat Jualan, Tuan Toko Maspati Tantang Pemda Manggarai: Kalau Mereka Bisa, Tertibkan!

Ruteng, infopertama.comPerilaku songong pengusaha di Ruteng, ibu kota kabupaten Manggarai rasanya susah tuk berubah. Bahkan, mereka menantang ketegasan Pemda Manggarai melalui dinas terkait tuk lakukan penertiban, jika punya nyali.

Tantangan itu disampaikan tuan toko bahan-bahan bangunan, Maspati – Ruteng saat disambangi media ini, Senin, 13 Mei 2024 petang.

“Iya tau itu trotoar, itu barang-barang toko Maspati. Sudah lama itu, belum ada yang berani tegur. Kalau yang berani, silahkan tertibkan.” Ungkap perempuan tua pemilik toko Maspati yang enggan menyebutkan namanya.

“Kalau mereka bisa, tertibkan! Tapi, harus kasitau semua yang pakai trotoar.” Lanjutnya dengan nada menantang.

Pantauan media ini di lokasi, tampak trotoar di depan toko Maspati Ruteng itu berubah fungsi jadi lapak jualan bahan bangunan. Di antaranya, semen, tandon, selang air, besi beton dan beberapa bahan lainnya.

Larangan Menguasai dan Memiliki Trotoar

Trotoar merupakan salah satu fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan di antara fasilitas-fasilitas lainnya. Seperti lajur sepeda, tempat penyeberangan pejalan kaki, halte, dan/ atau fasilitas khusus bagi penyandang cacat dan manusia usia lanjut sebagaimana yang dikatakan dalam Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”).

Perempuan Tua, tuan toko Maspati Ruteng tantang Pemda Manggarai Tertibkan Trotoar

Penyediaan fasilitas-fasilitas pendukung (termasuk trotoar) di atas diselenggarakan oleh pihak pemerintah bergantung pada jenis jalan tempat trotoar itu dibangun [Pasal 45 ayat (2) UU LLAJ].

a. Untuk jalan nasional, diselenggarakan oleh pemerintah pusat;

b. Untuk jalan provinsi, diselenggarakan oleh pemerintah provinsi;

c. Untuk jalan kabupaten dan jalan desa, diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten;

d. Untuk jalan kota, diselenggarakan oleh pemerintah kota;

e. Untuk jalan tol, diselenggarakan oleh badan usaha jalan tol.

Penting anda ketahui, ketersediaan fasilitas trotoar merupakan hak pejalan kaki yang telah disebut dalam Pasal 131 ayat (1) UU LLAJ. Ini artinya, peruntukan trotoar untuk pejalan kaki, bukan untuk orang pribadi.

Lebih lanjut dalam Pasal 25 ayat (1) huruf h UU LLAJ bahwa setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib lengkapi dengan perlengkapan jalan. Yang salah satunya berupa fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang berada di jalan dan di luar badan jalan. Ini artinya, sebagai salah satu fasilitas pendukung jalan, trotoar juga merupakan perlengkapan jalan.

Masih berkaitan dengan trotoar sebagai perlengkapan jalan, berdasarkan Pasal 28 ayat (2) UU LLAJ, setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan.

Sanksi

Ada 2 (dua) macam sanksi yang dapat dikenakan pada orang yang menggunakan trotoar sebagai milik pribadi dan mengganggu pejalan kaki.

1. Ancaman pidana bagi setiap orang yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan adalah dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah) (Pasal 274 ayat (2) UU LLAJ); atau

2. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, fasilitas Pejalan Kaki, dan alat pengaman Pengguna Jalan, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) (Pasal 275 ayat (1) UU LLAJ).

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV