Dalam kegiatan ini, tim melayani warga yang mengalami saraf terjepit, keterbatasan gerak, reposisi sendi dan ruas tulang belakang, leher kaku, sciatica, piriformis syndrome, osteoarthritis (OA) lutut, cedera engkel, serta nyeri kronis di area leher, punggung, pinggang, paha, lutut, pergelangan tangan, dan tumit. Selain itu, tersedia terapi bekam, gurah, akupuntur, dan terapi manual. Namun, pasien dengan riwayat stroke maupun patah/retak tulang sengaja tidak dilayani demi menjaga keselamatan.
Sebelum menjalani terapi, setiap warga terlebih dahulu melewati tahapan pemeriksaan awal. Tim terapis memastikan kondisi kesehatan peserta, termasuk menanyakan riwayat operasi maupun penyakit tertentu. Tahapan ini penting dilakukan agar metode terapi yang diberikan sesuai kondisi pasien dan terhindar dari risiko yang tidak diinginkan.
Salah seorang peserta, Nober Caling, warga Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, mengaku datang karena beberapa hari terakhir tubuhnya terasa pegal dan kaku. Usai menjalani terapi, ia merasakan perubahan yang signifikan.
“Awalnya badan saya terasa berat, terutama pada bagian punggung dan pinggang. Setiap bergerak rasanya kurang nyaman. Setelah diterapi, saya merasakan badan menjadi jauh lebih ringan dan lebih enak digerakkan. Rasa pegal yang saya alami juga mulai berkurang. Saya benar-benar merasakan manfaat dari pelayanan ini,” ungkap Nober.
Nober menambahkan, pelayanan kesehatan semacam ini sangat dibutuhkan masyarakat yang sedang berjuang memulihkan kondisi pascabencana. Terlebih, tidak semua warga memiliki kemampuan ekonomi untuk menjalani terapi atau pengobatan secara rutin. Karena itu, kehadiran Team Rescue NasDem dinilai menjadi solusi nyata.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











