Cepat, Lugas dan Berimbang

Dubium Methodicum

Mengkritisi Dianggap Tidak Etis

Dalam sebuah negara demokratis, yang berkutat sebatas sejuta konsep belaka tentang DEMOKRASI, kesangsian terhadap paket kebijakan akan dianggap sebagai ‘tidak etis’ dan ‘nonsense’. Jadinya masyarakat enggan bersuara lagi. Maka, sikap kritis menjadi begitu kerdil dan apatisme politik dalam membangun masyarakat semakin menumpuk. Jika sudah begini, frustasi-frustasi politik mudah disulut dan akan mencair dalam kebrutalan sosial massa. Dalam banyak situasi, kesangsian warga demokrasi terhadap keyakinan kolektif telah dilihat sebagai ancaman bagi stabilitas sikap hidup pemegang sistem. Kesangsian dinobatkan sebagai ‘musuh’ terbesar kemapanan. Segala gejolak massa yang ingin mempertanyakan, mendiskusikan situasi dan cara hidup, akan direpresikan sekejam mungkin. Banyak penguasa dalam negara atau pun institusi ‘quasi-demokrasi’ (seolah-olah ada demokrasi), menolak argumentasi rasional menuju kebenaran hakiki secara kejam. Akibatnya, rakyat takut dan tanpa disuruh pun mereka pasti bungkam. Dalam negara ‘quasi demokrasi’ seperti itu, penguasa sangat pandai memproduksikan ketakutan massal.

Beda pendapat, apalagi yang namanya kesangsian itu, menjadi ‘jenasah’ dalam peti mati kekuasaan yang tidak boleh diretangi (ditangisi-red). Jika sudah begini, kita hanya bisa terpekur beku dalam tatapan mata kita, langkah kita, senyum getir kita, kerinduan kita pada demokrasi dan harapan kita pada ideologi serta seluruh ketidakberdayaan kita terhadap ‘koridor-koridor kekuasaan’ yang kehilangan keindahan demokrasi. Kita, WNI dan Para Dewantara Muda yang demokratis ini, tentu harus ekstra hati-hati, jangan sampai demokrasi yang kita anut akan ‘direduksi’ ke dalam ‘quasi- demokrasi’ yang cendrung brutal.

Oleh RJ Pangul
Pojok Mapatris UST Jogja, 01 Februarii 2011. Mahasiswa semester bablas Fakultas Psikologi UST Jogja.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel