Sementara itu, kelompok tani yang memiliki hamparan lahan luas dengan topografi relatif datar diprioritaskan menerima alsintan kategori berat karena dinilai lebih efektif dan mampu menjangkau area pertanian yang lebih luas.
“Penyesuaian jenis alsintan dengan kondisi lahan sangat penting agar pemanfaatannya optimal dan benar-benar mendukung peningkatan produktivitas pertanian masyarakat,” jelasnya.
Secara khusus, Ferdy Ampur meminta para penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk meningkatkan pendampingan dan pengawasan terhadap kelompok tani penerima manfaat alsintan, terutama bantuan traktor roda dua yang jumlahnya mencapai 35 unit.
Ia menegaskan, peran penyuluh pertanian sangat penting dalam memastikan pemanfaatan alsintan berjalan efektif, tepat sasaran, dan tidak disalahgunakan.
“Terutama untuk bantuan traktor yang jumlahnya 35 unit. Teman-teman penyuluh saya minta untuk terus melakukan pengawasan sehingga apabila terjadi penyimpangan penggunaan alsintan traktor bisa segera diketahui,” tegas Kadis Ferdy Ampur.
Selain pengawasan, para PPL juga diminta aktif melakukan pendampingan teknis kepada kelompok tani agar alsintan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Kepada kelompok tani calon penerima manfaat, Kadis Ferdy Ampur meminta agar usai mengikuti sosialisasi, kelompok tani segera melaksanakan rapat bersama para anggota dengan menghadirkan penyuluh pertanian lapangan (PPL).
Rapat tersebut dimaksudkan untuk membicarakan berbagai hal teknis terkait pemanfaatan alsintan, termasuk biaya operasional, mekanisme penggunaan, jadwal pemanfaatan, hingga biaya pengangkutan alsintan dari Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menuju lokasi kelompok tani.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






