Saat itu, dia semacam membuat disclaimer, bahwa dia (Deinas Gelei) sebenarnya bukanlah Bupati, ia Wakil Bupati. “Sebenarnya adek, saya ini wakil bupati, bukan bupati. Tetapi, karena dari tadi banyak yang panggil saya Bupati, termasuk pak Bupati Manggarai tadi panggil saya juga bapak Bupati. Ya sudah, saya iyakan saja. Nanti, saya memang mau maju jadi Bupati di sana (Puncak Jaya),” Katanya sembari tersenyum.
Sontak, disclaimer ini membuat saya kaget. Waduh, untung belum sempat saya buatkan berita, apalagi kalau judul beritanya, sebut Bupati Puncak Jaya bla bla… Betapa malunya saya salah membuat berita, umpatku dalam hati.
Saya coba mencairkan suana, meyakinkan beliau agar mengamini ucapan orang-orang tadi, apalagi beliau memang mau maju menjadi Puncak Jaya pertama, biar tidak Puncak Jaya Satu ya.
Saat itu, ia menuturkan, bahwa sementara ia mendapat dukungan dari beberapa parpol menuju kursi Bupati di Puncak Jaya. Sayangnya, beliau tidak gamblang menyebut nama Parpol tersebut.
Begitu memulai ngobrol semakin dalam, tetiba suara MC melalui pengeras suara mengarahkan umat dan rombongan yang ada saat itu tuk segera bersiap, sebab rangkaian prosesi Pemberkatan Gereja segera mulai.

Alhasil, ngobrol santai dengan Wakil Bupati terhenti, beliau pamit ikut bersama rombongan dalam prosesi pemberkatan Gereja Santo Nicolas Copu.
Seiring berjalan Rangkaian acara, waktunya acara sambutan-sambutan. Dalam beberapa sambutan dari orang-orang penting tentunya, Nama Deinas Gelei, si Wakil Bupati Puncak Jaya selalu disebut. Sabutan khusus ini, tidak hanya dari kordinator Rombongannya, juga dari Bupati Manggarai, Heri Nabit. Begitupun dari Uskup Ruteng, Mgr Sipri Hormat, Pr menyapa Deinas Gelei sebagai Bupati. Entah karena ikut-ikutan dengan yang sebelumnya, atau karena alasan yang sama dengan saya mendapatkan informasi yang keliru juga, Sebutan Deinas Gelei sebagai Bupati juga terucap dari Ignatius Kardinal Suharyo Darmoatmodjo.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan