Berdasarkan karakteristik, tanah di lokasi kebunnya termasuk ke dalam jenis “tanah bontong jarang” (pantat kuda) atau istilah dalam ilmu tanahnya dikenal dengan sebutan tanah pod solik kuning. “Hasil padi paling tinggi 5 karung setara 350 kg beras atau jika dirupiahkan sama dengan Rp 3.500.000 untuk 1 musim tanaman yang jangka waktu panennya 5 bulan,” kata Herman. Namun sejak Herman dan Isterinya memutuskan untuk beralih ke usaha sayur-sayuran, keadaan berubah, di atas lahan kurang subur itu, kemudian dihasilkan puluhan juta rupiah dari hasil penjualan fanboks, ketimun, Brokoli, Terung, kol dan salad. Hal ini, ungkap Herman, berkat keseringan menggunakan pupuk organic dari kotoran ternak dan ditambah dengan arang sekam, dalam satu musim tanam yang durasinya 4 bulan.
Buah pikiran dari Anton merespon apa yang dilihat dan didapat selama kunjungan pertukaran pengalaman itu adalah Yayasan Ayo Indonesia perlu melakukan survey pasar (permintaan) di Labuan Bajo untuk menentukan pola tanam, terus menyadarkan keluarga petani mengkonsumsi sayur-sayuran setiap hari agar anggota keluarga sehat, konsisten mendorong petani untuk mengembangkan pertanian permakultur, mencari tehnologi pengendalian hama secara alamiah, membangun visi dari para petani dan sebaiknya menghindari penggunaan urea yang berlebihan sebab hari ini kita mendapatkan hasil yang banyak karena urea tetapi anak cucu kita di masa depan menuai kesulitan dalam bertani.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












