Mengembangkan pola pertanian terintegrasi menjamin kesuburan tanah
Herman kemudian mengajak Anton dan Peritno ke kebun miliknya, bekas lahan sawah, berukuran luas ¼ hektar, terletak persis di belakang rumahnya. Sayur jenis Salad, fanboks dan brokoli tumbuh subur, tidak heran kalau sayur-sayuran itu mampu menarik perhatian untuk segera dilihat dari dekat dan dipegang. Daunnya segar dan utuh tak ada satu hamapun terlihat, batang dari sayur-sayur itu kelihatan berukuran cukup besar pertanda tanahnya kaya akan unsur hara. Pemandangan demikian dengan obyek sayur-sayuran tumbuh di atas bedeng yang ditata rapih itu mengundang hasrat Anton untuk mengambil HP di saku celana lewisnya lantas meminta seserang mengambil foto bersama pemilik kebun dan beberapa petani dengan posisi berdiri dengan muka senyum di celah-celah bedang.

Kepada kedua tamu itu yang berdiri di tengah kebun sayur, Herman menjelaskan bahwa pupuk yang digunakan adalah kotoran kambing dan babi, sambil menjelaskan Panjang lebar tentang pupuk organic, dia menunjukkan letak kandang kedua jenis ternak dan ternyata posisi kandang dekat dengan lokasi kebun sehingga tidak sulit bagi dia dan isterinya untuk mengangkut pupuk ke lokasi kebun. Dia menerapkan pola pertanian terintegrasi, antara pemeliharaan ternak dan usaha sayur-sayuran. Pola ini sangat masuk akal untuk memastikan kontinuitas produksi.

Cerita yang tidak kalah menariknya dari herman mencengangkan anton dan peritno adalah tentang alasannya menanam sayur-sayuran dengan cara mengubah lahan sawah menjadi “ladang uang” bagi keluarganya. Herman menegaskan kembali bahwa kebun sayurnya dulu, kurang lebih 5 tahun lalu, adalah lahan sawah dengan 1 kali musim tanam saja karena terbatasnya air, hasil padi tidak mencukupi kebutuhan pangan dan keuangan keluarga saat itu sebab lahan sawahnya itu tidak subur.


Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












