Cerita Perjalanan Richard Urut dengan Anton Kipler, tamu dari Swiss

Penerimaan Anton Kipler dan Peritno secara adat Manggarai “Manuk Kapu” 

Di sana mereka bertemu dengan Herman dan Martinus didampingi oleh isteri dan anak mantu mereka. Di dalam rumah sederhana berdinding gedek milik Herman yang telah dibentangi tikar pandan berwarna merah dan ungu dengan motif khas manggarai, Anton Kipler dan peritno yang didampingi oleh Staf Agrobisnis Yayasan Ayo Indonesia diterima secara adat Manggarai, “Manuk Kapu” penuh keramahtamahan. Ayam jantan putih simbol ketulusan hati untuk menerima tamu yang dipandang sebagai bagian dari keluarga, terlihat dipegang erat oleh martinus dalam posisi duduk bersila kemudian menarasikan secara budaya manggarai kata-kata penyambutan selamat datang.

Saya duduk agak jauh dari kedua tamu tersebut, mengambil posisi dekat pintu masuk, menyaksikan tuan rumah menunjukkan raut wajah tersenyum dan tampak sumringah, tentu dimaknai sebagai tanda bahwa mereka senang dikunjungi orang asing, sangat bersejarah, ada orang yang asing datang bertamu. Tetapi kalau menghubungkannya dengan cerita mereka di halaman rumah, rasa kebahagiaan itu tidak terlepas dari suatu pengalaman berharga dimana mereka telah mendapatkan jutaan rupiah dari hasil penjualan sayur-sayuran yang beli oleh pedagang sayur dari Pasar Wae Nakeng, Lembor dan dari Ruteng pada minggu sebelumnya.

Anton Kipler
Sumber Pupuk Organic dari Herman Jagu, Petani Agribisnis di Pasar Sotor Ketang

Anton Kipler dan Peritno kelihatannya sangat senang dengan cara kelompok tani pasar sotor menyambut tamu. Anton secara spotan mengatakan kepada mereka, “hari ini saya merasa sangat bahagia, diterima dengan penuh senyum dan kita telah menjadi satu keluarga besar meski saya tinggal di Swiss,” ujar anton yang telah berusia 73 tahun ini.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel