Bicara Dampak Perubahan Iklim, Pokja Matim Duduk Bersama Komunitas Muslim di Kampung Nelo Congkar

Maka sebaiknya, ajak Jhon, kita mulai mengembangkan tanaman pangan lokal, seperti sorgum, ubi-ubian dan jagung secara organik karbon memafaatkan kotoran kambing untuk menjamin ketahanan pangan. Sorgum telah tumbuh baik di sini maka perlu diperluas areal penanamannya.

Dia juga mengingatkan jangan lupa membudidaya tanaman hortikutura, khusus jenis sayur-sayuran dan buah-bauhan secara oganik untuk tujuan peningkatan pendapatan dan ketersediaan pangan, untuk itu, kelompok tani bisa mengusulkan bantuan sumur bor dan embung ukuran kecil guna mengatasi kekurangan air.

“Saya tambahkan bahwa tidak hanya tanaman pangan yang menurun produksinya di Manggarai Timur akibat perubahan iklim tetapi kopi robusta juga terjadi pada 3 tahun terakhir. Padahal, permintaan pasar untuk komoditi ini cukup tinggi. Saat ini saja ada pembeli dari Jepang yang berkomitmen untuk membeli kopi robusta yang organis, dengan syarat tidak boleh menggunakan sarana produksi kimia khususnya herbisida dalam proses budidaya,” ungkapnya.

Pada bagian akhir pemaparannya, dia mengajak Imam Masjid Nelo supaya menyampaikan kepada umat yang lain tentang dampak perubahan iklim, kemudian meminta Pemerintah Desa Golo Ngawan mengalokasikan dana desa yang 20 persen untuk ketahanan pangan guna melaksanakan program kegiatan pengembangan pangan lokal.

Menanggapi ajakan ini, Yusup Daik menyambut baik dan setuju tetapi dia juga menyampaikan bahwa sebaiknya diskusi (lejong) tentang dampak perubahan iklim akibat pemanasan global, budidaya pangan local, budaya konsumsi pangan lokal diselenggarakan lagi oleh Pemerintah Desa, dan menghadirkan lebih banyak orang.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel