Bicara Dampak Perubahan Iklim, Pokja Matim Duduk Bersama Komunitas Muslim di Kampung Nelo Congkar

1001265093
1001265087

Borong, infopertama.com – Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dalam hal ini Dinas Pertanian telah memberi perhatian serius pada upaya penanganan dampak perubahan iklim untuk menjamin ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat melalui program kegiatan dalam RKPD 2024, antara lain, pekarangan pangan lestari (P2L), penyediaan pompa air, pembangunan sumur bor, penyediaan bibit padi dan jagung yang bernilai gizi tinggi dan tahan kering serta mempromosikan pendekatan organis pada proses budidaya kopi robusta.

Pengembangan tanaman pangan jenis sorgum sebagai pangan alternatif di beberapa wilayah bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTT dan juga didukung oleh Yayasan Ayo Indonesia serta Yayasan KEHATI Jakarta.

Hal ini disampaikan Yohanes Sentis, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan selaku anggota kelompok kerja (Pokja) perubahan iklim Manggarai Timur pada kegiatan lejong (diskusi) tentang dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan dan tanaman perdagangan serta komitmen kebijakan anggaran pembangunan pertanian dari pemerintah kabupaten Manggarai Timur untuk mengatasi dampak perubahan iklim dengan komunitas muslim di Kampung Nelo, Kecamatan Congkar, Jumat (22/3/2024).

Kegiatan ini dilaksanakan di rumah Yusup Daik, Imam Masjid Nurul Iman Nelo sebelum berbuka puasa, dihadiri oleh 25 keluarga.

Yusup Daik, Imam Masjid Nurul Iman Nelo

Kepada para peserta lejong (diskusi) kepala Dinas Pertanian mengingatkan kembali tentang dampak perubahan iklim dan berharap masyarakat di Manggarai Timur khususnya umat muslim di Kampung Nelo, Desa Golo Ngawan agar bersama sama Pemerintah Kabupaten dan Desa melaksanakan beberapa kegiatan adaptasi dan mitigasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim di sektor pertanian. Sehingga, kondisi sosial ekonomi dan ketahanan pangan dari kita tidak terpuruk. Walaupun dari segi dana dinilai masih sangat terbatas baik dalam kebijakan APBD maupun APBDes tahun 2024.

“Oleh karena itu, sebagai umat beriman kita tidak hanya berdoa tetapi juga harus memikirkan apa yang mesti kita lakukan agar lingkungan kita tidak rusak kerena ulah kita sendiri atau oleh perilaku merusak dari kita semua.”

Perubahan iklim itu sendiri, kata dia merupakan akibat dari dosa kita bersama yang tidak memberi perhatian pada upaya penyelamatan lingkungan, dimana masih ada saudara-saudara kita merambah hutan, menebang pohon di hutan seenaknya serta menggunakan pupuk kimia yang berlebihan.

“Maka pada bulan puasa ini, kita harus memeriksa batin kita masing-masing dan harus berupaya untuk merubah perilaku yang merusak lingkungan, kita harus membersihkan dosa ekologis ini. Sebab kita semua tahu, di Manggarai Timur perubahan iklim sudah di depan mata, tanda-tandanya, adalah terjadi banjir, tanah longsor, kekeringan yang berkepanjangan dan kekurangan air untuk minum dan pertanian.”

Dampak Perubahan Iklim
acara buka puasa bersama umat muslim di kampung Nelo Congkar

Pada bulan desember, jelas Jhon, biasanya ada turun hujan tetapi kali ini mulai Desember hingga awal Februari 2024 malah terjadi kekeringan, tidak turun hujan di sebagian besar wilayah Manggarai Timur. Sehingga, di beberapa wilayah sentra produksi jagung, dengan total luasan mencapai 273 ha mengalami gagal panen, yang pasti soal ini berdampak terhadap penurunan pendapatan dan penghasilan dari para petani jagung.

Kejadian ini terjadi di wilayah selatan, antara lain, di Compang Ndejing, Tana Rata, Nanga labang, Kota Ndora, Liang Bala dan Bondei.

Kemudian, dia melanjutkan penjelasannya, pada minggu pertama dan kedua bulan Maret 2024 terjadi hujan dengan curah relatif sangat tinggi di wilayah pantai utara sehingga terjadi banjir di Dampek dan Pota yang telah merusak tanaman jagung dan padi, kurang lebih 50 hektar sawah terendam banjir dalam waktu yang lama. Akibatnya, tanaman padi yang sudah umur 1 bulan batangnya rusak. Kita akan mengalami kekurangan pangan.

Maka sebaiknya, ajak Jhon, kita mulai mengembangkan tanaman pangan lokal, seperti sorgum, ubi-ubian dan jagung secara organik karbon memafaatkan kotoran kambing untuk menjamin ketahanan pangan. Sorgum telah tumbuh baik di sini maka perlu diperluas areal penanamannya.

Dia juga mengingatkan jangan lupa membudidaya tanaman hortikutura, khusus jenis sayur-sayuran dan buah-bauhan secara oganik untuk tujuan peningkatan pendapatan dan ketersediaan pangan, untuk itu, kelompok tani bisa mengusulkan bantuan sumur bor dan embung ukuran kecil guna mengatasi kekurangan air.

“Saya tambahkan bahwa tidak hanya tanaman pangan yang menurun produksinya di Manggarai Timur akibat perubahan iklim tetapi kopi robusta juga terjadi pada 3 tahun terakhir. Padahal, permintaan pasar untuk komoditi ini cukup tinggi. Saat ini saja ada pembeli dari Jepang yang berkomitmen untuk membeli kopi robusta yang organis, dengan syarat tidak boleh menggunakan sarana produksi kimia khususnya herbisida dalam proses budidaya,” ungkapnya.

Pada bagian akhir pemaparannya, dia mengajak Imam Masjid Nelo supaya menyampaikan kepada umat yang lain tentang dampak perubahan iklim, kemudian meminta Pemerintah Desa Golo Ngawan mengalokasikan dana desa yang 20 persen untuk ketahanan pangan guna melaksanakan program kegiatan pengembangan pangan lokal.

Menanggapi ajakan ini, Yusup Daik menyambut baik dan setuju tetapi dia juga menyampaikan bahwa sebaiknya diskusi (lejong) tentang dampak perubahan iklim akibat pemanasan global, budidaya pangan local, budaya konsumsi pangan lokal diselenggarakan lagi oleh Pemerintah Desa, dan menghadirkan lebih banyak orang.

Hal ini, ujar Yusup, sangat penting untuk menjadi pengetahuan dan kesadaran bersama, kemudian bersama sama juga melakukan aksi, misalnya membudidaya tanaman pangan local dan memperbaiki cara budidaya kopi dengan menggunakan pupuk organik. Tida boleh lagi menggunakan herbisida.

Nurdin Kailan, Kepala Desa Golo Ngawan pada diskusi itu mengungkapkan bahwa dana desa dan alokasi dana desa tahun ini jumlahnya menurun sebesar 250juta rupiah lebih, dari jumlah tahun sebelumnya, yaitu 1 milar rupiah lebih. Sebagian besar dana desa tahun 2024 dialokasikan untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT), mengatasi soal stunting dan miskin ekstrim. Sedangkan alokasi anggaran pada program ketahanan pangan digunakan untuk membangun jalan tani.

“Anggaran tahun ini dinilai masih kurang sehingga masih membutuhkan dukungan lembaga lain untuk program pemberdayaan masyarakat. Jika ada tambahan anggaran dari Alokasi Dana Desa tahun 2024 maka dana itu akan digunakan untuk melaksanakan program ketahanan pangan guna penyediaan benih tanaman pangan lokal (sorgum) dan aneka jenis sayur-sayuran bagi kelompok tani dan kelompok wanita tani,” pungkasnya.

Diskusi ini diselenggarakan oleh Yayasan Ayo Indonesia melalui Program Vicra (Voice for Inclusiveness Climate Resilience Actions/Menyuarakan Untuk Aksi-Aksi Berketahanan Iklim secara Inklusi).

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV