infopertama.com – Kesunyian sering kita kira sebagai keadaan yang jinak sesuatu yang hanya terjadi ketika suara berhenti, ketika percakapan usai, ketika malam menutup pintu-pintu keramaian. Namun sesungguhnya sunyi tidak pernah benar-benar patuh. Ia memiliki watak yang anarkis. Ia datang tanpa izin, menembus dinding pikiran, lalu duduk diam di dalam dada seperti tamu yang tidak berniat pulang.
Pada saat-saat tertentu, terutama ketika jarum jam saling bertindihan di angka dua belas, sunyi menjadi lebih berani. Ia berjalan di bawah bulan yang menggantung seperti lampu tua di langit, menerangi jalan-jalan pikiran yang jarang dilalui orang.
Pada waktu itulah seseorang sering tiba-tiba menyadari bahwa dirinya lebih telanjang dari yang pernah ia bayangkan. Bukan karena ketiadaan pakaian, tetapi karena semua penutup yang biasa ia pakai untuk menyembunyikan diri perlahan runtuh.
Mungkin karena itulah aku mengajakmu datang pada tengah malam. Tidak perlu membawa apa-apa. Tidak perlu baju, tidak perlu atribut, tidak perlu juga nama-nama yang biasanya kita gunakan untuk menjelaskan siapa diri kita. Dalam kesunyian, semua identitas sering kali hanya menjadi benda-benda yang terlalu berat untuk dibawa. Datanglah hanya dengan detak jantungmu. Itu sudah cukup.
Sebab ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu, sebuah kolam kopi hitam yang telah lama basi. Ia tidak lagi mengepul hangat seperti pagi, tidak lagi menawarkan aroma yang membuat orang merasa hidup. Tetapi justru di situlah barangkali rahasia malam disimpan. Pada rasa pahit yang terlalu lama dibiarkan, pada cairan gelap yang perlahan kehilangan kehangatannya.
Barangkali kita perlu mandi di sana bukan untuk membersihkan tubuh, tetapi untuk memahami sesuatu yang jarang kita sadari: bahwa hidup tidak selalu segar seperti tegukan pertama kopi, dan tidak selalu manis seperti gula yang larut di dasar cangkir. Kadang-kadang hidup justru lebih jujur ketika ia mulai terasa basi.
Dan mungkin, setelah kita keluar dari kolam pahit itu, kita akan memahami satu hal sederhana: kesunyian tidak pernah benar-benar ingin menghancurkan kita.
Ia hanya ingin menelanjangi kita dari segala kepura-puraan, agar kita berani melihat diri sendiri sebagaimana adanya rapuh, pahit, tetapi tetap berdetak.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




