Pemaknaan membongkar tungku api ini, lanjut Dr. Adi merujuk pada seorang ibu yang barusan bersalin merasa kedinginan dan tidur di dekat tungku api (toko ruis sapo). Tujuan untuk menghangatkan badan, karena banyak darah yang keluar setelah bersalin. Namun karena ibu merasa badannya sudah cukup hangat dan bayi yang baru lahir sudah lewat dari lima hari setelah bersalin, maka boleh keluar kamar tidur dekat tungku api (ruis sapo). Dan, selanjutnya tidur di kamar keluarga.
Pindah lokasi tidur dari dekat tungku api (toko ruid sapo) dan pindah tidur ke kamar keluarga inilah Cear Cumpe.
Selanjutnya adalah pemberian nama setelah bayi yang sekitar berusia 3 bulan. Acara pemberian nama pertama-tama untuk nama kampung (teing ngasang tu’u/ngasang beo). Pemberian nama ini sebelum ada pemberian nama baptis (tradisi Katolik)
Kalau anak laki-laki, maka nama yang diusulkan adalah nama marga ayah (patrilineal) atau leluhur pada marga ayah.
Tetapi kalau anak perempuan, beber Nggoro maka nama bisa juga pakai nama marga pada anak rona (keluarga asal mama) atau keluarga asal istri.

Pria asal Wakel, Rejeng, ini juga menjelaskan bahwa Cear Cumpe bermakna syukuran. Cear cumpe seperti ini khusus untuk syukuran keluarga besar yang memeroleh berkat berlimpah keturunan, berkat pekerjaan dan pendidikan.
Dalam ritual Cear Cumpe, memerlukan hewan yang disembelih, khusus untuk pemberian nama (teing ngasang) adalah manuk lalong bakok (jantan putih).
Sementara ‘tuk Cear Cumpe Syukuran, lanjut Dr. Adi, hewan yang sembelih oleh anak rona adalah manuk jantan berwarna merah (lalong cepang). Dan babi jantan putih (ela bakok) dan mbe kondo (kambing).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan