Cepat, Lugas dan Berimbang

500 Mata-Mata Israel Ditangkap Iran

Teheran, infopertama.com – Sekitar 500 orang yang diduga sebagai spionase atau mata-mata Israel ditangkap Iran. Kabar itu diumumkan Komandan Kepolisian Republik Islam Iran Ahmadreza Radan.

Radan menyebut sebagian besar penangkapan berkaitan dengan kasus serius, termasuk individu yang diduga memberikan informasi target serangan serta merekam dan mengirimkan lokasi serangan.

“Sekitar separuh dari kasus penangkapan melibatkan insiden serius, termasuk orang-orang yang memberikan informasi target dan mereka yang merekam serta mengirim lokasi serangan,” ujar Radan dikutip dari Reuters, Selasa (17/3/2026).

Namun, ia tidak memerinci kapan mereka melakukan penangkapan tersebut.

Sebelumnya, sejumlah media Iran juga melaporkan adanya penangkapan di berbagai wilayah. Kantor berita semi-resmi Tasnim News Agency menyebut sekitar 20 orang ditangkap di wilayah barat laut Iran karena diduga mengirimkan data lokasi aset militer dan keamanan kepada Israel.

Selain itu, sekitar 10 orang lainnya juga ditahan di wilayah timur laut Iran, meskipun daerah tersebut dilaporkan mengalami kerusakan minimal akibat serangan udara. Beberapa dari mereka dituduh mengumpulkan informasi mengenai kawasan sensitif dan infrastruktur ekonomi penting.

Badan intelijen regional dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menuduh Israel dan Amerika Serikat mengaktifkan jaringan mata-mata dan tentara bayaran untuk memicu kerusuhan di Iran bersamaan dengan serangan militer.

Sementara itu, Student News Network (SNN) melaporkan tiga orang lainnya ditahan di Provinsi Lorestan, Iran barat, karena diduga mencoba memengaruhi opini publik dan membakar simbol-simbol peringatan.

Sumber militer Israel yang berbicara kepada Reuters menyatakan serangan terhadap sejumlah pos pemeriksaan keamanan dilakukan berdasarkan informasi dari informan lokal di Iran.

“Kami mulai menyerang pos pemeriksaan keamanan berdasarkan intelijen dari informan lokal di Iran. Ini menandai fase baru dalam serangan terhadap Iran,” kata sumber tersebut.

Sebelumnya, pada 12 Maret 2026, militer Israel dilaporkan melakukan serangan udara terhadap pos pemeriksaan dan pasukan milisi Basij di Teheran, yang selama ini bertugas membatasi pergerakan warga di ibu kota Iran.

Meski akses internet di Iran masih dibatasi, militer Israel menyatakan operasi tersebut juga memanfaatkan foto-foto yang dikirim warga Iran melalui media sosial.

Milisi Basij, yang berada di bawah komando IRGC, selama ini dikenal sebagai organisasi paramiliter yang berperan dalam penindakan terhadap demonstrasi anti pemerintah di Iran.