– Ikon “PLAY VIDEO” dan durasi “03:02” jelas merupakan elemen grafis yang ditambahkan untuk menipu, seolah-olah ini adalah tangkapan layar dari sebuah video.
– Latar belakang jendela dengan pemandangan Eropa tidak relevan dengan konteks teks yang menyebutkan Kupang, NTT.
Jadi, gambar ini dipastikan konten palsu yang dibuat untuk tujuan sensasional atau penyebaran informasi yang tidak benar.
Algoritma Media Sosial dan Sindrom FOMO Memacu Tren Pencarian
Tren pencarian terhadap video viral tidak terjadi secara kebetulan. Sepanjang kuartal pertama tahun 2026, algoritma media sosial semakin canggih dalam mendeteksi dan mengamplifikasi kata kunci yang memicu rasa penasaran massal.
Ketika sejumlah akun anonim mulai menyebarkan tangkapan layar atau potongan gambar yang diklaim sebagai cuplikan kejadian, rasa penasaran audiens langsung tersulut.
Mekanisme ini diperkuat oleh sindrom FOMO, di mana pengguna internet merasa tertinggal atau kurang update jika tidak mengetahui topik yang sedang hangat diperbincangkan.
Para penyebar tautan palsu memanfaatkan kondisi psikologis ini dengan menciptakan narasi yang mendesak, seperti menyertakan kalimat “link akan segera dihapus” atau “video full tanpa sensor”.
Taktik rekayasa sosial (social engineering) ini terbukti efektif di Indonesia, mengingat penetrasi internet yang masif seringkali tidak diimbangi dengan tingkat literasi digital yang memadai.
Mekanisme Kejahatan Siber Melalui Tautan Video Palsu
Secara teknis, peredaran tautan yang mengklaim berisi tayangan terkait video viral merupakan bentuk kampanye kejahatan siber yang terstruktur. Para peretas menggunakan metode clickbait ekstrem untuk mengarahkan pengguna ke luar dari platform media sosial resmi menuju situs pihak ketiga yang tidak aman.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






