
Ruangku Butuh Keheningan
Hingar bingar pagi itu kini berkumandang
Ragu yang lalu kini lagi mengadu
Sembiluan berusaha mengacu pada ruang
Masih saja bersahaja menyembul tiada henti
Baiknya beranjak mengetam di ruang baru
Membidik tanpa menoleh di kala itu
Patut mengacu walau ada yang mengadu
Halu pernah menaruh mesti dicopot tanpa ragu
Bila masih terpekat rasa menderu-deru
Tak tahu kemana lagi akan berlabuh temu
Ruang gerak dibatasi oleh waktu
Mungkin hanya bisa membisu pada lorong keruh
Ingin ke teras dahulu yang memicu pilu
Menata batin yang kini tak lagi damai
Tapi fisik bertumpu pada titik konflik
Aku butuh gubuk untuk merombak ambruk
Senja di Ufuk Barat
Sinar kanvasnya apik berlalu sejalan dengan petang
Dari timur tadi mengarah ke barat perlahan redup
Angin berhembus mengelus nuansa
Ufuknya kian kemari terhapus menyisakan bayang-bayang
Burung berterbangan kembali ke sarang
Beristirahat sejenak menanti fajar kembali bersinar terang
Ingin pulang, pulang pada pangkuan puan
Tapi tugas menentang tetap bertahan walau rindu menyerang
Pena Hadir Mewakili Hati
Coretan awak yang tak pandang salah
Meski getir merangkai derai hati
Nuansa beragam dipadu satu sedikit utuh
Jemari beraksi tanpa mengingkari
Terima kasih senjata abadi
Membiak halusinasi memilih diksi
Untaian hitam bercorak marak
Mengasah nalar tak tercemar situasi
Hasrat membara membasuh batin
Luka kala telah terkuak
Ceria bersembur tiada bungkam
*Venanius Alfando Satrio merupakan Mahasiswa UNIKA St Paulus Ruteng, Program Bahasa dan Sastra
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



