Cepat, Lugas dan Berimbang

Tanam Sorgum dengan Pendekatan Wanatani

Dilihat dari dekat, tajuk tanaman-tanaman ini tumbuh subur dan tidak saling merugikan satu sama lain. Hal ini tidak mengherankan, karena jarak tanam telah diatur secara teknis dengan standar yang sesuai dengan syarat tumbuh dari setiap jenis tanaman. Meskipun ada pohon mahoni, cengkeh, dan gamelina di bagian pinggir pekarangan, cahaya matahari tetap dapat masuk ke dalam keseluruhan areal pekarangan. Dengan demikian, tanaman-tanaman ini dapat berfotosintesis secara normal, terutama sorgum. Keberadaan pohon di sekitarnya tidak menghalangi pertumbuhan sorgum.

Hal lain yang dipandang sangat positif dari model wanatani ala Bapak Hubert ini adalah lapisan tanah bagian atas (top soil) terlindungi dari gerakan aliran air permukaan ketika hujan turun, berkat ubi jalar dan kestela berdaun lebar yang berfungsi sebagai tanaman penutup (cover crop).

“Di saat hujan turun dengan curah yang tinggi, tidak ada air permukaan dari kebun yang mengalir keluar ke arah bagian timur pekarangan yang posisinya lebih rendah,” ungkap Hubert.

Ini menunjukkan bahwa air hujan langsung terserap ke dalam tanah. Porositas tanah menjadi lebih baik untuk mengalirkan air hujan ke dalam tanah melalui akar-akar tanaman yang ada di dalamnya.

Pembelajaran menarik yang diperoleh dari Huber adalah upayanya yang cerdas mengoptimalisasi penggunaan lahan untuk menjamin ketersediaan pangan, sayuran, pendapatan (ekonomi), dan kayu dengan menerapkan agroforestry.

Selain itu, agroforestry yang dikembangkannya ini mampu mencegah kerusakan permukaan tanah akibat aliran permukaan saat hujan lebat terjadi, biasanya pada November hingga Januari.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN