Cepat, Lugas dan Berimbang

Tamat SD, Tapi Berhasil Sekolahkan Tiga Anak Jadi Sarjana

infopertama.com – Di banyak tempat, pendidikan tinggi sering dianggap hanya mungkin diraih oleh anak-anak dari keluarga mapan—mereka yang orang tuanya memiliki pekerjaan tetap, penghasilan besar, dan kehidupan yang sudah aman. Namun di sebuah kampung kecil di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, anggapan itu dibantah oleh seorang petani sederhana.

Namanya Mikael Madel. Ia bukan pegawai negeri. Ia juga bukan sarjana. Pendidikan formalnya hanya sampai sekolah dasar. Namun di balik keterbatasan itu, Mikael menyimpan mimpi yang jauh lebih besar daripada banyak orang: anak-anaknya harus sekolah setinggi mungkin, sampai menjadi sarjana.

Bagi Mikael, pendidikan bukan sekadar sekolah. Pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan dan jembatan menuju masa depan keluarga yang lebih baik. Ia percaya bahwa masa depan yang sejahtera tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh keputusan bijaksana orang tua hari ini.

Uang dari Kebun Tidak Boleh Habis Begitu Saja

Setiap kali menerima uang dari hasil penjualan sayur, Mikael tidak pernah membiarkannya habis begitu saja. Ia selalu menyisihkan sebagian untuk ditabung. Baginya, tabungan bukan sekadar uang yang disimpan, tetapi jaminan bahwa biaya pendidikan anak-anaknya akan tersedia kapan pun dibutuhkan.

Mikael percaya bahwa masa depan keluarga yang baik, bahagia, dan sejahtera sangat ditentukan oleh cara orang tua mengelola berkat hari ini. Ia meyakini bahwa orang tua membangun jalan masa depan bagi anak-anak melalui pendidikan. Karena itu, ia memilih hidup hemat ketika ada uang.

Menurut Mikael, uang adalah tanda berkat dari Tuhan—buah dari kerja keras dan iman. Maka setiap berkat yang datang melalui hasil sayur, usaha kambing, dan sapi harus digunakan sebijaksana mungkin. Ia menabung di mana saja yang memungkinkan: di bank, koperasi kredit, bahkan di celengan sederhana. Kadang ia menyimpan uang dalam wadah tradisional bernama robo, yaitu labu kering yang biasa digunakan dalam tradisi Manggarai.

Kebun 8 Are yang Menjadi Tempat Harapan

Konsekuensi dari mimpi besar itu jelas: tidak ada cara lain selain bekerja lebih keras. Mikael pun memutuskan untuk mengusahakan kebun sayur di atas lahan seluas 8 are. Kebun itu tidak lagi sekadar lahan pertanian, tetapi tempat tumbuhnya harapan bagi masa depan keluarga.

Ia menjadikan budaya Manggarai sebagai pegangan. Baginya, orang Manggarai pada masa lalu mampu menghasilkan peradaban yang kuat. Jika nilai kerja keras itu dihidupkan kembali, kesejahteraan bukanlah mimpi yang jauh.

Karena itu ia menghayati nilai adat Manggarai yang dikenal dengan ungkapan “duat gula wee mane”—pergi bekerja pagi-pagi dan pulang sore hari. Nilai itu tidak ia jadikan slogan, tetapi ia hidupi sebagai cara hidup.

Setiap hari Mikael bangun pukul 5 pagi. Pukul 6.30 ia mulai mengurus pakan 18 ekor kambing dan 2 ekor sapi, lalu berangkat ke kebun. Ia bekerja tanpa mengeluh, sebab ia tahu siapa yang sedang ia perjuangkan: keluarganya.

Belajar Pertanian Organik dan Pemasaran Berjejaring

Sejak tahun 2005, ketika ia mulai berteman dan belajar bersama Yayasan Ayo Indonesia, Mikael semakin mantap mengelola sayuran dan ternak sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bersama Yayasan Ayo Indonesia, Mikael belajar tentang penerapan pertanian organik pada sayur dan strategi pemasaran berjejaring. Pengetahuan ini memperluas cara pandangnya. Ia semakin memahami bahwa pertanian bukan hanya soal menanam, tetapi juga soal kualitas produksi, manajemen, dan jaringan pasar.

Keputusan itu ia ambil dengan sadar, sebab ia tidak mungkin menjadi pegawai karena hanya menamatkan sekolah dasar. Namun keterbatasan itu tidak membuatnya menyerah. Ia memilih mengolah tanah dan membangun masa depan dari apa yang ia miliki.

Suami Istri Harus Jalan Bersama

Menurut Mikael, mimpi besar tidak akan terwujud jika suami dan istri berjalan sendiri-sendiri. Ia menegaskan bahwa suami istri harus bekerja sama untuk mewujudkan mimpi keluarga.

Ia juga mengatakan bahwa pertengkaran dalam keluarga adalah hal yang wajar. Perbedaan pandangan pasti terjadi ketika berdiskusi. Namun pertengkaran itu bukan untuk mematikan semangat melangkah, melainkan bukti bahwa suami istri sedang berjalan bersama menuju masa depan.

Bagi Mikael, pertengkaran bukan untuk memisahkan, tetapi justru untuk mempersatukan.

Ia menekankan pentingnya kebiasaan “bantang” dalam budaya Manggarai, yang berarti berdiskusi atau bermusyawarah. Bantang harus menjadi kebiasaan dalam hidup berkeluarga. Dalam bantang, pasangan bukan dipandang sebagai lawan, melainkan sebagai penopang spirit dan sahabat seperjalanan.

Karena itu, ia menegaskan bahwa doa sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, memohon kehadiran Roh Kudus setiap hari menjadi sumber kekuatan agar keluarga tetap bersatu dan tidak mudah goyah.

Pesan ini disampaikannya dalam kegiatan lejong bersama anggota Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Sahabat Lentang pada tanggal 17 Januari 2026, bertempat di rumah Viktoria, Ketua KDD di Kampung Pelus.

Menabung: Warisan Bijaksana Orang Manggarai

Menariknya, Mikael menyadari bahwa literasi keuangan sebenarnya sudah lama dipraktikkan oleh orang Manggarai di masa lalu. Perilaku menabung sudah melekat pada orang tua dulu meskipun mereka tidak pernah diajarkan secara formal.

Dalam kehidupan sosial yang berbasis lejong (kebersamaan), lahir keputusan akal sehat bahwa setiap hasil dari kebun dan kandang harus disisihkan untuk memenuhi kebutuhan hari esok—pangan, sandang, papan—dan juga untuk masa sulit seperti paceklik.

Berpikir tentang hari esok telah menjadi kebiasaan orang Manggarai di masa lalu. Mereka meyakini bahwa terang hidup masa depan bergantung pada tindakan bijaksana hari ini. Karena itu, menabung adalah cara hidup yang bijaksana.

Nilai budaya itu terus dipraktikkan oleh Mikael Madel sampai hari ini.

Petani Kecil dengan Pikiran Besar

Mikael Madel adalah seorang petani sederhana yang tinggal di Kampung Pelus, Desa Lentang, Kecamatan Lelak, Manggarai. Meski berpostur tubuh kecil, cara berpikirnya sangat visioner.

Mimpi itu tumbuh dari pengalaman masa lalunya. Ia mengingat hidupnya saat kecil: orang tuanya miskin dan mengalami gangguan pikiran. Ia sering ditinggalkan, susah makanan, dan rumahnya dulu sangat memprihatinkan, beratapkan ijuk.

Namun Mikael tidak pernah marah pada keadaan. Ia menerimanya tanpa dendam. Bahkan sejak kecil, ia sudah belajar berpikir dewasa. Pada tahun 1980-an, ketika masih duduk di bangku SD kelas 4, ia mengajak teman-temannya membangun rumah sederhana: beratap alang-alang, berdinding bambu, berukuran 4 meter x 5 meter. Rumah sederhana yang dibangun pada tahun 1980-an itu adalah rumahnya sendiri.

Dari sana tumbuh semangat gotong royong, kebersamaan, dan keyakinan bahwa masa depan bisa diperjuangkan.

Kerja Keras yang Berbuah Nyata

Kesungguhan dan konsistensi Mikael dan istrinya untuk fokus pada usaha sayuran, kambing, dan sapi tidak sia-sia. Perlahan mereka hidup berkecukupan secara finansial. Bahkan mereka mampu membeli 14 bidang tanah sebagai aset keluarga.

Selain itu, dalam anggaran pengeluaran keluarga, Mikael dan istrinya telah menetapkan tabungan sebagai prioritas utama. Keputusan ini mereka ambil karena biaya pendidikan sangat besar. Hasilnya nyata: tiga anaknya telah menamatkan perguruan tinggi dengan biaya yang sangat besar, sementara satu orang anak lainnya menyelesaikan kursus keterampilan pada periode 2011–2024.

Bagi Mikael, keberhasilan bukan sesuatu yang instan. Keberhasilan lahir dari disiplin, ketekunan, kerja keras, dan kemampuan mengendalikan diri ketika memegang uang.

Pesan untuk Orang Muda: Masa Depan Harus Dijemput

Di akhir sharingnya, Mikael mengajak semua orang untuk fokus berusaha, fokus menabung, dan membangun keluarga yang kuat. Ia mengingatkan bahwa suami istri harus saling mendukung dan memperhatikan hak anak-anak, terutama hak untuk memperoleh pendidikan.

Namun dalam diam, Mikael juga mengaku sering sedih ketika melihat sebagian orang muda saat ini kehilangan semangat kerja keras, tidak membantu orang tua, tidak berusaha mencari penghasilan, dan ketika ada hajatan justru menghabiskan waktu dengan miras.

Baginya, masa depan tidak bisa ditunggu. Masa depan harus dijemput.

Kebun Kecil, Mimpi Besar

Kisah Mikael Madel mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari modal besar. Kadang perubahan dimulai dari kebun kecil, dari disiplin menabung, dari kerja keras yang konsisten, dan dari kesepakatan suami istri untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak.

Mikael membuktikan bahwa kemiskinan tidak harus diwariskan. Keterbatasan pendidikan tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Dengan kerja keras, kebersamaan dalam keluarga, hidup hemat, serta iman kepada Tuhan, seseorang bisa hidup bermartabat di tanah sendiri.

Karena bagi Mikael, kebun bukan hanya tempat menanam sayur. Kebun adalah tempat menanam masa depan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel