Namun demikian, perintah pengamanan situasi negara tersebut tidak dilaksanakan oleh Jendral Soeharto. Ternyata Soeharto lebih memilih untuk mengamankan ambisinya untuk mengambilalih kekuasaan dari Presiden Soekarno. Perintah yang bertujuan untuk keselamatan negara dicemari oleh ambisi kekuasaan sang jendral.
Kedua, menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Presiden Soekarno. Perintah yang satu ini juga tidak dilaksanakan oleh pemegang Supersemar. Yang terjadi ialah barisan simpatisan Jendral Soeharto semakin banyak, sebanding lurus dengan barisan pembenci Presiden Soekarno yang semakin banyak.
Tidak heran suara-suara anti-Soekarno masif didengungkan, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat umum. Selain itu, di waktu bersamaan Presiden Soekarno tidak diperbolehkan pergi berobat ke luar negeri. Akibatnya, keselamatan-kesehatan dan kewibawaan Presiden Soekarno tidak terjamin.


Ketiga, mengadakan koordinasi dengan jendral-jendral dari angkatan lain katakanlah Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Perintah ini juga tidak mungkin diikuti, sebab berpotensi mengganggu skenario bulus Soeharto. Lagi-lagi, perintah dari Supersemar dicemar oleh ambisi kekuasaan.
Keempat, melaporkan segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab. Sebagai pemegang Supersemar, sudah sepantasnya Jendral Soeharto melaporkan situasi dan kondisi negara kepada Pemberi perintah yakni Presiden Soekarno. Namun demikian, dalam kenyataannya bukannya laporan tugas yang diberikan kepada Presiden Soekarno, melainkan laporan bahwa Presiden sudah waktunya mengundurkan diri.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
