Sementara itu, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. Nasaruddin Umar, mengatakan Sumpah Pemuda tidak terlahir dari ruang kosong. Kesepakatan para pemuda Indonesia untuk bersatu adalah perwujudan dari budaya maritim Indonesia sebagaimana disampaikan sejarawan Prancis yang meneliti kebudayaan Indonesia, Denys Lombard.
Nasaruddin mengatakan masyarakat maritim memiliki filosofi kepemilikan bersama untuk tiga hal yaitu pantai, sungai (air tawar), dan api. Tidak ada satu kelompok/etnis yang berhak memonopoli ketiganya, sehingga tidak heran Indonesia menjadi “Jalur Sutera” yaitu jalur perdagangan internasional kuno dari peradaban Tiongkok.


“Itulah sebabnya Sumpah Pemuda menjadi gampang karena budaya dasarnya adalah budaya maritim dengan filosofi pantai, sungai, dan api sebagai pemersatu bangsa,” kata Nasaruddin.
Nasaruddin mengatakan Indonesia sebagai negara maritim, menganut konsep nasionalisme terbuka yang tidak melebur ideologi atau nilai-nilai asing termasuk agama menjadi satu, sebaliknya mengelaborasi nilai-nilai tersebut. Itulah sebabnya, lahir Sumpah Pemuda, termasuk ideologi Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
“Pancasila tampil bukan sebagai agama, tapi kekhususan bangsa Indonesia yang bisa membingkai perbedaan-perbedaan yang ada menjadi bingkai keindonesiaan di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Nasaruddin.
Gracia Paramitha, Ph.D. dalam paparannya menyatakan bahwa Sumpah Pemuda tahun 1928 menjadi inspirasi para pemuda/pemudi mendeklarasikan Sumpah Pemuda 2.0 di Bandung pada 2012.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
