Sahabat Setia Sendal Seribu yang terkasih,
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama (Yes 58:1-9a), dengan tegas mengatakan bahwa puasa yang dikehendaki oleh Allah adalah puasa yang membuahkan belas kasih bagi sesama. Tanpa belas kasih kepada sesama yang mengiringi tobat dan puasa kita, maka kita akan kehilangan arti dan makna dari puasa.
Belas kasih itu harus nampak dalam sikap mau membebaskan sesama dari belenggu kelaliman; sikap membagi-bagikan makanan kepada mereka yang sangat membutuhkan; sikap memberi pakaian kepada mereka yang telanjang dan tidak pernah menyembunyikan wajah kepada saudara yang sedang membutuhkan bantuan kita.

Inilah puasa yang sungguh dikehendaki oleh Allah. Tidak sekadar berkata puasa tapi berani untuk menunjukkannya dalam kehidupan setiap hari. Puasa kita membebaskan kita dari belenggu kesombongan dan ingat diri sendiri. Puasa membebaskan kita dari kecenderungan diri sendiri. Dan inilah waktunya kita berpuasa ( bdk Mat. 9:15), waktu untuk menunjukkan belas kasih Allah lewat perbuatan kita.

Yesus, Wajah Kerahiman Allah yang kelihatan telah menunjukkan belas kasihNya dengan membebaskan kita dari belenggu dosa, memberikan kita makanan berupa TubuhNya sendiri, memberikan kita pakaian baru yang menjadikan kita anak-anak Allah. Kini, tugas kitalah untuk menunjukkan belas kasih Allah itu lewat perbuatan hidup kita setiap hari.
Sahabat Setia Sendal Seribu yang terkasih,
Waktunya sudah tiba, hari ini, kita semua diajak untuk bersama membawa sukacita ke dalam keluarga dan komunitas kita dengan melepaskan belenggu kegelapan dan cara hidup yang penuh dengan dosa dari dala diri dan anggota komunitas kita. kehadiran kita harus membawa semakin banyak orang keluar dari belenggu dosa dan masa lalu, membebaskan anggota keluarga dan komunitas kita dari belenggu dosa yang mengikatkan kita pada kebiasaan untuk menghujat, gossip, menghakimi, mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan kata orang, selalu menganggap diri benar.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












